Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 815-7515-7704

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Pada hari santri nasional yang ke-11 ini kami ingin mengajak semua pihak terutama kepada saudara-saudari kaum muslimin dan muslimat di manapun berada untuk merenungkan beberapa penjelasan ini (Al-Qur’an, Hadits, Riwayat, Qoidah Fiqhiyyah, dan Maqalah para ulama’)

1. Surat al-Hujurat ayat 11

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ۝١١

2. Hadist Riwayat muslim

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. (رواه المسلم)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Yang dimaksud أخوالمسلم (saudara muslim) adalah orang yang memiliki tuhan, kitab, nabi, dan qiblat yang sama.

3. Riwayat

Imam abu daud dalam kitab sunannya menyebutkan sebuah riwayat.

4. Qo’idah fiqhiyyah

الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على تحريمها

Hukum asal segala sesuatu adalah boleh hingga terdapat dalil yang menunjukan keharamannya. seperti contoh: Ghoyatut ta’dhim santri kepada kyai sang murobbi karena begitu besar jasanya kepada dirinya dan umat pada umumnya, asalkan santri tersebut tidak menyekutukan tuhan dengan kyainya.

5. Maqalah para ulama di dalam kitab ihya ulumuddin

Dimana kitab ini sangat masyhur di pesantren-pesantren yang sudah memenuhi 5 rukun syarat pesantren diantaranya ialah pengasuh atau kyainya serta kompetensi keilmuan dan asal-usul (sanad) ilmu yang dimiliki pengasuh atau kyai dan juga telah melengkapi 7 ruh pesantren diantarnya NKRI dan nasionalisme.

“ٱلْمُحْسِنُ سَيُجْزَىٰ بِإِحْسَانِهِ، وَٱلْمُسِيءُ سَيَكْفِيْهِ مَسَاوِيْهِ

مَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَلَهُ مُحِبٌّ وَمُبْغِضٌ، فَإِذَا كَانَ كَذٰلِكَ فَكُنْ مَعَ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ

جَوَابُ ٱلْأَحْمَقِ ٱلسُّكُوتُ

Karena diam seperti ini akan selamat sebagaimana hadis nabi

مَنْ صَمَتَ نَجَا (رواه بيهقي)

Dalam hadis lain nabi bersabda

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Secara implisit hadis ini memiliki makna janganlah sesorang membuat narasi yang memicu kemarahan orang lain atau membuat suasana semakin gaduh.

Sebagai penutup, marilah kita renungi peribahasa berikut ini:

  • “Air tenang menghanyutkan”: Orang yang pendiam biasanya menyimpan ilmu yang dalam.
  • “Tong kosong nyaring bunyinya”: Orang yang bodoh biasanya banyak bicara.

Demikian renungan singkat ini. Semoga dapat menjadi bahan introspeksi dan menambah keimanan kita. Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan.

ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ

Al-haqir wal faqir Prof. Dr .KH Masruchan Bisri
Khodim Ponpes Askhabul Kahfi Semarang.

Bagikan

Leave a Reply