Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 815-7515-7704

Wisuda ke-3 Ma’had Aly Askhabul Kahfi, Cetak Sarjana Tafsir Berbasis Kitab Kuning yang Tangguh

Pondok Pesantren Askhabul Kahfi di Mijen, Semarang, kembali menorehkan prestasi gemilang dengan menyelenggarakan Wisuda ke-3 untuk program Ma’had Aly, Rabu (12/11). Sebanyak 19 santri dan santriwati dinyatakan lulus setelah menuntaskan studi selama delapan semester dengan total 147 Satuan Kredit Semester (SKS).

Acara yang berlangsung khidmat di Aula Kampus 3 tersebut tidak hanya menjadi seremoni, melainkan bukti konkret keseriusan pesantren yang dikenal sebagai pusat pendidikan kitab kuning ini dalam mencetak generasi muda yang ahli dalam ilmu-ilmu Islam klasik.

Wisuda ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, antara lain Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah KH. Amin Handoyo, Lc., M.Ag., Kepala Kemenag Kota Semarang KH. Muhtasit, S.Ag., M.Pd., perwakilan TNI (Danramil Mijen), Polri (Kapolsek Mijen), Camat Mijen, serta para lurah dan tokoh masyarakat setempat.

Kekhasan Kurikulum dan Khidmat Pasca-Wisuda

Dalam sambutannya, Mudir Ma’had Aly, KH. Nadlirin, M.Pd., menegaskan kekhasan program studi Ma’had Aly Askhabul Kahfi yang berfokus pada pendalaman kitab kuning sebagai ruh pendidikan.

“Selain kitab kuning, kami juga mengajarkan hadits shahih Imam Bukhari, Ushul Fiqh dengan kitab Ghayah Wushul karya Zakaria Al Anshari, Filsafat Quraniyah, dan Tafsir dengan konsentrasi sejarah menggunakan kitab Al Munir karya Wahbah Zuhaili dan Imam Nawawi,” jelas Nadlirin.

Ia juga menyampaikan pesan penting bagi para lulusan untuk menjalani masa khidmah (pengabdian) di pesantren minimal satu tahun sebelum terjun ke masyarakat. “Khidmah ini untuk mempertajam ilmu, mengasah jiwa, dan melatih perjuangan, sehingga mereka siap pakai dan memiliki 4B: Bisa Beribadah, Baca Kitab (Tafaqquh Fiddin), Berdikari, dan Nasrul Ilmi (menyebarkan ilmu),” paparnya.

Apresiasi dari Pemerintah dan Pesan untuk Menjawab Zaman

Sementara itu, Kepala Kemenag Kota Semarang, KH. Muhtasit, S.Ag., M.Pd., menekankan pentingnya sinergi antara ilmu klasik dan modern.

“Para wisudawan telah dibekali ilmu kitab kuning. Namun, tantangan zaman sekarang tidak hanya membutuhkan literatur ‘kitab kuning’, tetapi juga ‘kitab putih’—yakni ilmu pengetahuan, informasi, dan teknologi. Jangan sampai ada stigma santri tertinggal informasi atau gaptek,” tegas Muhtasit.

Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Kota Semarang sedang menyusun Peraturan Daerah (Perda) tentang Fasilitasi Pengembangan Pesantren yang ditargetkan rampung pada 2026, yang akan mencakup aspek pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi umat.

Prosesi Wisuda dan Prestasi Lulusan

Dalam prosesi inti wisuda, 19 wisudawan dan wisudawati secara khidmat menerima samir (toga), medali, dan ijazah. Wisudawan terbaik dengan IPK tertinggi 3,69 adalah M. Abdul Mar’uf S.T.U. dengan judul risalah “Memahami Islam Kejawen dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah Ayat 208 Menurut Tafsir Al-Qurtubi”.

Gelar yang disandang para lulusan adalah Sarjana Tafsir Wa Ulumuhu (S.T.U.), sesuai dengan Peraturan Menteri Agama RI. Laporan wisuda disampaikan oleh Irfan Rozi, M.Pd., yang juga mengonfirmasi bahwa alumni angkatan sebelumnya telah berhasil melanjutkan studi S2 dan berkarier di berbagai bidang, termasuk menjadi guru dan PNS di Kementerian Agama.

Sanad Keilmuan dan Keunikan Lulusan Pesantren

Kabid PD Pontren Kanwil Kemenag Jawa Tengah, KH. Amin Handoyo, Lc., M.Ag., memberikan apresiasi tinggi. Ia menilai Ma’had Aly Askhabul Kahfi sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tinggi berbasis pesantren di Kota Semarang.

“Output dari program studi ini memiliki dasar yang kuat dalam tarjih pesantren dan dapat menjadi contoh bagi pondok pesantren lain,” ujarnya. Beliau berpesan agar para lulusan menjaga semangat perjuangan dan nilai-nilai luhur pesantren untuk menjadi “sinar dan cahaya” bagi lingkungan.

Dalam orasi ilmiahnya, KH. Amin Handoyo menekankan keunggulan utama lulusan Ma’had Aly, yaitu penguasaan kitab kuning (kutubut turats) dan memiliki sanad keilmuan yang bersambung (muttasil).

“Inilah yang membedakan pesantren dengan lembaga lain. Di pesantren, ada sanad. Akidahnya Ahlusunnah wal Jama’ah, yang berarti tidak hanya berpegang pada teks (sunnah), tetapi juga pada pemahaman kolektif ulama (jama’ah) dari generasi ke generasi,” jelasnya.

Beliau menambahkan, kombinasi antara validitas keilmuan dari referensi primer (kitab kuning) dan sanad yang kuat menjadikan alumni Ma’had Aly sebagai calon-calon ulama dan pemimpin yang otoritatif dan dapat dipertanggungjawabkan ilmunya.

Harapan untuk Generasi Penerus

Suasana haru dan bahagia menyelimuti seluruh rangkaian acara. Tangis bahagia para wisudawan, wali, dan guru mewarnai momen penuh kebanggaan tersebut.

Perwakilan wisudawati, Almaena Nurmaya Putri S.T.U., dalam sambutannya mengucapkan terima kasih tak terhingga kepada para guru, orang tua, dan pengasuh pesantren. “Jika hari ini kami disebut sarjana, itu adalah mahkota untuk Bapak dan Ibu. Kami hanyalah buah dari pengorbanan panjang dan doa-doa yang tak pernah putus,” ujarnya.

Acara ditutup dengan pembacaan ikrar wisuda dan doa yang dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Askhabul Kahfi, Prof. Dr. (HC) K.H. Masruchan Bisri. Wisuda kali ini tidak hanya menandai kesuksesan akademik, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan tradisi keilmuan Islam yang relevan di tengah arus modernitas.

Bagikan

Leave a Reply