ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Pada hari santri nasional yang ke-11 ini kami ingin mengajak semua pihak terutama kepada saudara-saudari kaum muslimin dan muslimat di manapun berada untuk merenungkan beberapa penjelasan ini (Al-Qur’an, Hadits, Riwayat, Qoidah Fiqhiyyah, dan Maqalah para ulama’)
1. Surat al-Hujurat ayat 11
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِّنْ قَوْمٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُوْنُوْا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاۤءٌ مِّنْ نِّسَاۤءٍ عَسٰٓى اَنْ يَّكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّۚ وَلَا تَلْمِزُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوْا بِالْاَلْقَابِۗ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوْقُ بَعْدَ الْاِيْمَانِۚ وَمَنْ لَّمْ يَتُبْ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الظّٰلِمُوْنَ ١١
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olokkan itu) lebih baik daripada mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain (karena) boleh jadi perempuan (yang diolok-olok itu) lebih baik daripada perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela dan saling memanggil dengan julukan yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) fasik setelah beriman. Siapa yang tidak bertobat, mereka itu lah orang-orang zalim.
2. Hadist Riwayat muslim
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَحَاسَدُوْا ، وَلاَ تَنَاجَشُوْا ، وَلاَ تَبَاغَضُوْا ، وَلاَ تَدَابَرُوْا ، وَلاَ يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ ، وَكُوْنُوْا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا ، اَلْـمُسْلِمُ أَخُوْ الْـمُسْلِمِ ، لاَ يَظْلِمُهُ ، وَلاَ يَخْذُلُهُ ، وَلاَ يَحْقِرُهُ ، اَلتَّقْوَى هٰهُنَا ، وَيُشِيْرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ ، بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْـمُسْلِمَ ، كُلُّ الْـمُسْلِمِ عَلَى الْـمُسْلِمِ حَرَامٌ ، دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. (رواه المسلم)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
”Janganlah kalian saling dengki, saling mencari kesalahan (tajassus), saling membenci, saling membelakangi (melengos) dan sebagian dari kalian menjual apa yang dijual saudaranya. Jadilah kalian semua hamba–hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, sehingga dia tidak boleh menzhaliminya, menghinanya, mendustakannya dan merendahkannya. Takwa itu letaknya di sini (sambil menunjuk ke dadanya sebanyak tiga kali) cukuplah seseorang itu dalam kejelekan selama dia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.” (HR. Muslim)
Yang dimaksud أخوالمسلم (saudara muslim) adalah orang yang memiliki tuhan, kitab, nabi, dan qiblat yang sama.
3. Riwayat
Imam abu daud dalam kitab sunannya menyebutkan sebuah riwayat.
Ketika Nabi Nuh menaiki perahu, dan memasukkan ke dalam perahu itu berbagai makhluk secara berpasang-pasangan, tiba-tiba beliau melihat seorang lelaki tua yang tidak dikenal. Orang itu tidak memiliki pasangan. Nabi Nuh bertanya, ”untuk apa kamu masuk kemari?” orang itu menjawab, ”aku masuk kemari untuk mempengaruhi sahabat-sahabatmu supaya hati mereka bersamaku, sementara tubuh mereka bersamamu. ”orang tua itu adalah iblis. Lalu, Nabi Nuh berkata, ”keluarlah kamu dari sini, hai musuh Allah! Kamu terkutuk!” Iblis itu kemudian berkata kepada Nabi Nuh, ”ada 5 hal yang dengan kelimanya aku membinasakan manusia. Akan kuberitahukan yang tiga dan kusembunyikan yang dua. “Allah mewahyukan kepada nabi Nuh: ”katakan, aku tidak membutuhkan yang tiga. Aku membutuhkan yang dua. “lalu Nabi Nuh bertanya, ”apa yang dua itu?” Iblis menjawab, ”dua hal yang membinasakan manusia adalah ketamakan dan kedengkian. Karena kedengkian inilah aku dilaknat sehingga menjadi terkutuk. Karena dorongan ketamakan itu pula, Adam dan Hawa tergoda untuk menuruti keinginannya.“
4. Qo’idah fiqhiyyah
الأصل في الأشياء الإباحة حتى يدل الدليل على تحريمها
Hukum asal segala sesuatu adalah boleh hingga terdapat dalil yang menunjukan keharamannya. seperti contoh: Ghoyatut ta’dhim santri kepada kyai sang murobbi karena begitu besar jasanya kepada dirinya dan umat pada umumnya, asalkan santri tersebut tidak menyekutukan tuhan dengan kyainya.
5. Maqalah para ulama di dalam kitab ihya ulumuddin
Dimana kitab ini sangat masyhur di pesantren-pesantren yang sudah memenuhi 5 rukun syarat pesantren diantaranya ialah pengasuh atau kyainya serta kompetensi keilmuan dan asal-usul (sanad) ilmu yang dimiliki pengasuh atau kyai dan juga telah melengkapi 7 ruh pesantren diantarnya NKRI dan nasionalisme.
“ٱلْمُحْسِنُ سَيُجْزَىٰ بِإِحْسَانِهِ، وَٱلْمُسِيءُ سَيَكْفِيْهِ مَسَاوِيْهِ
Orang yang berbuat baik akan dibalas sesuai kebaikannya dan orang yang berbuat jahat maka madharat kejahatannya akan kembali kepada pelakunya.
مَا مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَلَهُ مُحِبٌّ وَمُبْغِضٌ، فَإِذَا كَانَ كَذٰلِكَ فَكُنْ مَعَ أَهْلِ طَاعَةِ اللَّهِ
Tidak ada seorangpun kecuali baginya ada yang menyenangi dan ada yang membenci ,apabila keadaan seperti itu maka bersamalah kamu (berteman) dengan orang yang senantiasa taat kepada allah .
جَوَابُ ٱلْأَحْمَقِ ٱلسُّكُوتُ
Jawabnya orang dungu (jawa:kumprung/kurang akal) jika ia mengecam atau mengolok-olok adalah diam (tidak perlu dijawab).
Karena diam seperti ini akan selamat sebagaimana hadis nabi
مَنْ صَمَتَ نَجَا (رواه بيهقي)
Barangsiapa diam, maka ia akan selamat (HR.Baihaqi)
Dalam hadis lain nabi bersabda
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Barangsiapa yang iman kepada allah dan hari akhir hendaklah berkata baik (jika tidak bisa) maka hendaknya diam (muttafaq alaih).
Secara implisit hadis ini memiliki makna janganlah sesorang membuat narasi yang memicu kemarahan orang lain atau membuat suasana semakin gaduh.
Sebagai penutup, marilah kita renungi peribahasa berikut ini:
- “Air tenang menghanyutkan”: Orang yang pendiam biasanya menyimpan ilmu yang dalam.
- “Tong kosong nyaring bunyinya”: Orang yang bodoh biasanya banyak bicara.
Demikian renungan singkat ini. Semoga dapat menjadi bahan introspeksi dan menambah keimanan kita. Mohon maaf jika ada kekurangan dan kesalahan.
ٱلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ ٱللَّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Al-haqir wal faqir Prof. Dr .KH Masruchan Bisri
Khodim Ponpes Askhabul Kahfi Semarang.













