Oleh KH Masruchan Bisri
SEMARANG, TRIBUN JATENG-. Selapanan Malam Ahad Legi dan peringatan Hari Lahir Nahdhatul Ulama` ke 96 H di hadiri oleh masyarakat sekitar, ribuan wali santri , saudara wali santri bahkan tetangga wali santri. Bertempat di Kampus 1 Pondok Pesantren Askhabul Kahfi, yang berada di Kelurahan Polaman Kecamatan Mijen Kota Semarang. Melalui momen Selapanan Malam Ahad Legi dan peringatan Hari Lahir Nahdhatul Ulama` ke 96 H, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH. Masruchan Bisri menjelaskan tentang sejarah dan perjuangan Nahdhatul Ulama`.

Latar belakang berdirinya NU
Ada dua peristiwa besar yang dihadapi umat Islam sebelum kemerdekaan ( internal dan eksternal). Pertama, Imperialisme Belanda yang menjajah Indonesia selama 3,5 Abad, dengan 3 misi besarnya : mengeruk seluruh kekayaan negeri dan membiarkan bangsa Indonesia melarat dan bodoh, menguasai kedaulatan dan teritorial sebuah bangsa dan menyebarkan misi agama. Kedua, gerakan yang mengatasnamakan pembaharuan dan pemurnian ajaran Islam yang terjadi di Arab ( Mekkah dan Madinah ), dengan dalih memurnikan Islam. Gerakan ini melarang mauludan, barzanji, menggusur petilasan-petilasan sejarah islam, seperti makam beberapa pahlawan Islam dan memberantas kebebasan bermadzhab. Peristiwa itu terjadi bermula pada tahun 1924 M yaitu tragedi penggulingan kekuasaan di Mekkah dan Madinah, terhadap raja yang sedang berkuasa yaitu Syarif Hussein. Dibawah kekuasaan Ibnu Sa`ud pemahaman agama Islam di Arab dipaksakan secara radikal/keras untuk mengikuti faham Wahabiyyah yang anti madzhab.
Atas peristiwa yang memprihatinkan itu para kyai ponpes yang sebelumnya berjuang sendiri-sendiri ( kyai, santri dan jama`ahnya) mulai berfikir untuk membuat sebuah wadah perjuangan. Mereka (para kyai) istikhoroh setiap malam, namun belum menemukan isyaroh apapun. Tiba-tiba dengan tanpa diduga sebelumnya, datanglah seorang santri yaitu Kyai As’ad, utusan dari Mbah Kholil Bangkalan, Madura mengantarkan sebuah tongkat kepada KH. Hasyim Asy`ari dan ucapan Surat Toha ayat 17-23 yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya. Peristiwa ini terjadi pada tahun 1924. Setahun kemudian pada tahun 1925, Kyai As`ad di utus lagi untuk menyampaikan tasbih dan ucapan يَاجَبَّارُ يَاقَهَّارُ.
Berangkat dari peristiwa simbolik ini, para kyai yang dipimpin oleh KH. Hasyim Asy`ari bermusyawarah dan selanjutnya, tepat pada tanggal 16 Rajab 1344 H/ 31 Januari 1926 di Surabaya tepatnya di rumah KH. Ridwan Abdullah Jl. Bubutan VI Surabaya didirikan Jam`iyyah Nahdhatul Ulama`. Nama Nahdhatul Ulama’ Di usulkan oleh KH. Abdul Wahab Chasbullah. Nahdhoh “masdar marroh”, nahdhoh artinya sekali bangkit ( tidak jatuh bangkit). Nahdhatul Ulama` berarti artinya bangkitnya para ulama`.
Kiprah dan peran NU terhadap agama dan bangsa ( Pra Kemerdekaan )
Terhadap Agama, perjuangan NU dititikberatkan pada pemahaman ahli sunnah wal jama`ah terhadap serangan penganut ajaran wahabi. Dan terhadap bangsa dan negara, pada masa penjajahan Belanda sikap NU jelas yaitu menerapkan politik non cooperation ( tidak mau kerjasama ) dengan Belanda. Selanjutnya para Ulama` mengharamkan segala sesuatu yang berbau Belanda, sehingga semakin menumbuhkan rasa kebangsaan dan anti penjajah, hal ini terlihat ketika NU menolak mendudukkan wakilnya dalam Volksraad ( Dewan Perwakilan Rakyat Masa Belanda ).
Kemudian pada masa Jepang, ketika ormas-ormas Islam ( NU dan Muhammadiyah ) di bubarkan oleh Jepang, perjuangan para kiai NU di fokuskan melalui jalur diplomasi. Pada tahun 1942, KH. Wahid Hasyim dan para kiai lain masuk anggota : Chuo Sangi in ( parlemen buatan Jepang ). Lewat parlemen itu KH. Wahid Hasyim meminta agar pemerintah bala tentara Jepang, mengijinkan NU dan Muhammadiyah di aktifkan kembali, maka pada bulan September 1943 permintaan itu dikabulkan.
Pada akhir Oktober 1943 atas prakarsa NU dan Muhammadiyah, mendirikan wadah perjuangan baru bagi umat Islam Indonesia dengan nama Majelis Syuro Muslimin Indonesia ( Masyumi) dengan Pimpinan tertinggi KH. Hasyim Asy`ari dan wakilnya KH. Wahid Hasyim.
Ketika pemerintah bala tentara Jepang meminta para pemuda Indonesia bergabung menjadi prajurit pembantu tentara Jepang (HEIHO), KH. Wahid Hasyim atas nama pimpinan Masyumi, justru minta agar Jepang melatih kemiliteran pemuda-pemuda Islam secara khusus dan terpisah, maka pada tanggal 14 Oktober 1944 permintaan itu di kabulkan dengan di bentuknya Hizbullah. Mereka di latih kemiliteran oleh para komandan PETA dengan pengawasan prajurit Jepang, bertindak sebagai Panglima Tertinggi Hizbullah adalah KH. Zainul Arifin dari NU.
Sejak itu pesantren-pesantren disamping untuk mengaji, berubah menjadi markas pelatihan Hizbullah, para santri menjadi prajurit dan para Gus ( putra kyai ) menjadi komandan dan para kyai menjadi penasehat spiritual dan sekaligus penentu kebijakan.













