Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 815-7515-7704

SEJARAH DAN PERJUANGAN NAHDHATUL ULAMA` (NU)

Peran NU menjelang kemerdekaan dan setelah kemerdekaan

Ketika BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persipan Kemerdekaan Indonesia ) di bentuk 29 April 1945, KH. Wahid Hasyim duduk sebagai salah seorang anggotanya, sedangkan KH. Abdul Wahab Chasbullah, KH. Masykur dan KH. Zainul Arifin, bergabung sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia ( PPKI ).

PERUMUSAN DASAR NEGARA

KH. Wahid Hasyim juga sebagai salah seorang perumus Dasar Negara, dan turut serta sebagai penandatangan Piagam Jakarta bersama 8 orang lainnya. Ketika Indonesia bagian Timur mempermasalahkan 7 kata dalam Piagam Jakarta, maka NU telah menunjukkan kebesaran jiwanya, dengan mencoret 7 kata yang bermasalah ( Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya ), yang selanjutnya disebut dengan Muqoddimah / Pembukaan UUD 1945.

RESOLUSI JIHAD NU

Belum genap 1 bulan usia kemerdekaan, Indonesia langsung mendapat cobaan yang berat, Tentara Sekutu yang di dalamnya ada Tentara Belanda mendarat di Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Bung Karno dan Bung Hatta berupaya melakukan upaya diplomatik, untuk mendorong tentara sekutu bekerja professional hanya mengurus tahanan saja, dan tidak mengutak-atik status kemerdekaan Republik Indonesia, namun upaya itu tidak membuahkan hasil.

Bung Karno galau, ia menghitung jika sampai terjadi peperangan secara matematis tidak akan mungkin bisa mengalahkan sekutu, persenjataan mereka, jauh lebih lengkap dan keahlian militernya lebih memadai. Atas saran Jenderal Besar Sudirman, Bung Karno diminta mengirim utusan khusus kepada Ro`isul Akbar Nahdlatul `Ulama Hadrotusy Syaikh KH. Hasyim Asy`ari di Pondok Pesantren Tebu Ireng, Jombang, tujuannya meminta fatwa KH. Hasyim Asy`ari tentang hukumnya tentang berjihad membela Negara yang notabene bukan negara Islam seperti Indonesia. KH. Hasyim Asy`ari lantas memanggil KH. Wahab Chasbullah dari Tambakberas, Jombang. KH. Wahab Chasbullah diminta mengumpulkan ketua-ketua NU se-Jawa dan Madura untuk membahas persoalan ini.

Bukan hanya itu KH. Hasyim Asy`ari juga meminta kyai-kyai utama NU melakukan sholat Istikhoroh, salah satunya Kyai Abbas dari Buntet, Cirebon, Jawa Barat. 21 Oktober 1945 seluruh delegasi NU se-Jawa dan Madura telah berkumpul di kantor Pusat Ansor di Jalan Bobotan, Surabaya. KH. Hasyim Asy`ari memimpin langsung pertemuan tersebut dan kemudian dilanjutkan oleh KH. Wahab Chasbullah. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang dan mendengarkan hasil Istikhoroh para kyai utama NU, esok siangnya tanggal 22 Oktober 1945 pertemuan menghasilkan 3 rumusan penting, yang kemudian di kenal dengan istilah RESOLUSI JIHAD NU :

  1. Setiap Muslim, tua, muda dan miskin sekalipun wajib memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan Indonesia.
  2. Pejuang yang mati dalam membela kemerdekaan Indonesia layak di anggap Syuhada`.
  3. Warga yang memihak kepada Belanda , diangggap memecah belah persatuan, oleh karena itu  harus di hukum mati.

Dokumen resolusi jihad ditulis dalam huruf arab jawa atau pegon, ditandatangani oleh KH Hasyim Asyari, disebarluaskan ke jaringan pesantren. Tak terkecuali kepada komandan-komandan hizbullah dan fisabilillah di seluruh penjuru jawa dan Madura. Dokumen resolusi jihad juga dimuat di sejumlah media massa pergerakan masa itu. Hanya berselang tiga hari pasca resolusi jihad dicetuskan 60.000 tentara sekutu berlabuh di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya dengan persenjataan lengkap. Mendengar kedatangan pasukan penjajah, ribuan santri dan kyai dari semua penjuru Jawa Timur bergerak menuju Surabaya. Situasi pun terus memanas dan cenderung tak terkendali. Resolusi jihad NU telah memompa semangat perjuangan rakyat dan memicu terjadinya pertempuran hebat selama 3 hari di Surabaya, yakni tanggal 27, 28, dan 29 Oktober 1945 dan tentara Inggris kewalahan menghadapi perlawanan tentara Jawa Timur.

 Mereka lantas mendatangkan Bung Karno ke Surabaya untuk diajak berunding melakukan gencatan senjata. Pagi hari tanggal 30 Oktober, gencatan senjata ditandatangani pemerintah Indonesia dan Inggris. Namun sore harinya terjadi insiden di Jembatan Merah yang menewaskan orang nomor satu tentara inggris di Surabaya, yaitu Jendral Mallaby. Gencatan senjata pun langsung berakhir. Pengganti Jendral Mallaby, yaitu Jendral Robert Mansergh mengultimatum laskar pejuang dan tentara Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Inggris paling lambat 10 November 1945. Jika tidak Inggris mengancam akan membumi hanguskan Surabaya. Mendengar ancaman itu para komandan laskar Hizbullah, Sabilillah, Mujahidin, TKR dan para santri marah besar. Seorang pemuda bernama Sutomo atau dikenal dengan Bung Tomo sowan kepada KH. Hasyim Asy`ari. Ia meminta izin kepada KH. Hasyim Asy`ari untuk menyiarkan dan menyebarluaskan resolusi jihad melalui radio.

Bagikan

Leave a Reply