Najis mugholladhoh
Najis mugholladhoh adalah najisnya anjing dan babi beserta peranakan salah satu dari keduanya, karena ia adalah makhluq yang berasal dari najis maka ia juga dihukumi najis. Jika anjing atau babi kawin dengan hewan lain meskipun dengan hewan yang dagingnya halal dimakan dan kemudian melahirkan anak, maka anaknya dihukumi najis ( mugholladhoh ). Seandainya seekor anjing atau babi menyetubuhi seorang wanita yang kemudian membuahkan seorang anak, maka anak ini dihukumi benda najis ( مُتَنَجِس ). Dan dalam hal ini ia termasuk orang mukallaf yang wajib melaksanakan sholat dan ibadah- ibadah lainnya. Set bangkai anjing dan babi dihukumi suci, begitu juga benang labah – labah ( نَسْجُ عَنْكَبُوْت ). Najis mugholladhoh bisa disucikan dengan cara membasuhnya sebanyak tujuh kali basuhan, dan salah satunya harus dicampur dengan debu. Dalam sebuah hadits Nabi bersabda : طَهُوْرُإِنَاءِاَحَدِكُمْ اِذَاوَلَغَ فِيْهِ الْكَلْبُ اَنْ يُغْسِلَهُ سَبْعَ مَرَّاتٍ أُوْلاَهُنَّ بِالتُّرَابِ
“Sucinya wadah air kalian yang dijilat oleh anjing adalah dengan membasuhnya tujuh kali, salah satunya dengan debu” ( HR. Muslim ). Debu yang digunakan untuk mencampur harus debu yang suci, tidak boleh debu yang najis dan debu yang musta`mal (debu yang telah digunakan untuk bertayamum). Begitu pula tepung, gamping, debu batu, pasir dan sejenisnya tidak boleh digunakan untuk mencampur air yang akan digunakan untuk membersihkan najis mugholladhoh.
Bentuk – bentuk najis yang di ma`fu (diampuni), antara lain:
1). Sejenis darah nyamuk, termasuk segala serangga yang tidak berdarah mengalir, seperti mrutu dan kutu.
2). Darah sejenis kudis, seperti wudun semat, darah luka – luka, nanah (قَيْح), nanah uwuk (صَدِيْد) dari sejenis kudis, meskipun darah – darah tersebut banyak dan bahkan mengalir bersama keringat. Dengan syarat darah – darah tersebut (sejenis darah nyamuk dan kudis ) tidak diusahakan atau dilakukan dengan sengaja, misalnya membunuh nyamuk di pakaian, memeras (memlotot) sejenis kudis, memakai pakaian yang berlumuran darah nyamuk, lalu dipakai untuk sholat atau menggunakan sajadah yang berlumuran darah untuk alas sholat.
3) Sedikit darah orang lain yang bukan mugholladhoh, begitu pula diampuni darahnya sendiri yang telah berpisah kemudian mengenai badannya lagi. Namun, jika darah yang seperti ini banyak, maka tidak dima`fu.
4). Sedikit darah sejenis haidh dan darah hidung ( mimisen). Disamakan hukumnya dengan darah haidh dan mimisen, yaitu sedikit darah yang keluar dari lobang – lobang tubuh selain lobang jalan keluarnya najis seperti dubur. Dasar ukuran sedikit atau banyak (darah ) adalah adat atau kebiasaan yang berlaku.
5). Darah yang keluar dari sejenis tusuk jarum dan bekam meskipun banyak yang masih tertinggal ditempat yang luka. Sholatnya seseorang yang gusinya berdarah, dan belum mencuci mulut serta tidak menelan ludah (yang bercampur dengan darah) selama dalam sholat, maka sholatnya dihukumi sah, karena darah gusi yang bercampur dengan ludah sendiri termasuk dihukumi ma`fu.
6). Bekas najis sesudah istijmar atau peper (bersuci dengan menggunakan batu), tahi lalat, air kencing dan tahi kelelawar, jika mengenai tempat sholat, pakaian dan badan, meskipun banyak, dengan alasan sulit untuk menghindarinya.
7). Tahi segala burung yang telah kering mengenai tempat, jika cobaan ini bersifat umum (dimana – mana tempat kedapatan seperti ini).
Sholatnya seseorang yang membawa batu bekas alat bersuci, binatang yang pantatnya terdapat najis, binatang sembelihan yang telah dibersihkan tempat sembelihannya, namun kotoran dalam perutnya belum dibuang, bangkai suci seperti ikan laut yang belum dibersihkan kotoran dalam perutnya, atau membawa telur mandul (jawa : uwukan) yang isinya telah berdarah, maka sholat orang tersebut dihukumi tidak sah. Begitu pula sholatnya tidak sah, bagi orang yang membawa sesuatu dimana ujungnya terkena najis, meskipun ujung ini tidak bergerak bersama gerakan sholatnya.













