Rosulullah SAW kemudian berjalan hingga tiba di Baitul Maqdis dan bertemu dengan para Nabi, lalu sholat bersama mereka dan Rosulullah SAW sebagai imamnya.
Setelah selesai bertemu dengan para Nabi, Malaikat Jibril membawa Rosulullah SAW ke langit satu sampai langit yang ke tujuh. Di langit yang pertama Rosulullah SAW bertemu dengan Nabi Adam AS. Lalu di langit yang kedua beliau bertemu dengan Nabi Yahya AS dan Nabi Isa AS, di langit yang ketiga bertemu dengan Nabi Yusuf AS, di langit yang ke empat bertemu dengan Nabi Idris AS, di langit yang kelima bertemu dengan Nabi Harun AS, di langit yang ke enam bertemu dengan Nabi Musa AS, dan di langit yang ketujuh atau terakhir Rosulullah SAW bertemu dengan Nabi Ibrahim AS.
Setelah sampai di langit yang ketujuh, Malaikat Jibril menaikkan Rosulullah SAW ke sidratil muntaha (سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى). Dan setelah beliau sampai di sidratil muntaha, Allah memberikan perintah dan mewajibkan sholat lima puluh waktu kepada Nabi Muhammad SAW.
Dalam sebuah hadits Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, Nabi bersabda :” kemudian Allah memberikan perintahNya kepadaku dan mewajibkan sholat lima puluh waktu kepadaku. Lalu aku bertemu Musa, ia berkata :” apa yang diperintahkan Tuhanmu?”, aku menjawab,” Dia mewajibkan padaku sholat lima puluh waktu”. Musa berkata,” kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena umatmu tidak akan kuat melaksanakannya”. Aku pun kembali kepada Tuhan dan meminta keringanan, lalu Dia mengurangi sepuluh, kemudian aku kembali kepada Musa, dan aku terus diperintahkan kembali kepada Tuhanku saat bertemu Musa, sampai Allah mewajibkan padaku sholat lima waktu, lalu Musa berkata,”kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan dariNya”. Aku pun berkata,” aku telah kembali kepada Tuhanku, maka aku malu”. Atau beliau bersabda :”Aku berkata aku tidak kembali”. Lalu dikatakan kepadaku, “ dengan sholat lima waktu ini engkau memperoleh pahala sholat lima puluh waktu. Satu kebaikan dibalas sepuluh kali lipat, barang siapa meniatkan kebaikan namun tidak melaksanakannya, maka dicatat baginya satu kebaikan. Barangsiapa mengamalkannya, maka dicatat baginya sepuluh kebaikan. Barang siapa meniatkan suatu keburukan namun ia tidak melaksanakannya, maka tidak dicatat dosa baginya, dan jika ia melaksanakannya, maka dicatat satu dosa baginya”.
Sebab Nabi di Isra`kan
Pada tahun sepuluh kenabian, Nabi mendapat musibah dan cobaan yang sangat berat, yaitu ; meninggalnya Siti Khodijah istri Nabi yang sangat menyanyangi dan gigih dalam membela perjuangan Nabi. Tidak lama kemudian yaitu kurang lebih satu bulan paman Nabi yang bernama Abu Tholib yang selalu melindungi dan mengayomi juga meninggal dunia. Atas peristiwa yang amat menyedihkan Nabi ini, maka tahun sepuluh kenabian disebut tahun `aamul khuzni (tahun kesedihan).
Tujuan Isra`
Pertama untuk mengangkat derajat Nabi yang lebih tinggi, kedua untuk menguji keimanan para hamba dan yang ketiga untuk menerima amanat besar yaitu berupa sholat lima waktu sehari semalam.
Dan di antara i`tibar atau pelajaran yang amat penting yang diambil dari peristiwa Isra` Mi`raj Nabi ialah : kita harus bersabar dalam menghadapi segala cobaan hidup di dunia. Nabi Muhammad SAW bersabda :
اَشَدُّ النَّاسِ بَلاَءً فِى الدُّنْياَ الْاَنْبِيَاءُثُمَّ الْعُلَمَاءُ ثُمَّ الْاَمْثَلُ فَالْاَمْثَلُ
“Manusia yang paling berat cobaannya di dunia ialah para Nabi kemudian para ulama` kemudian orang yang berada setingkat dibawahnya, lalu orang yang berada setingkat dibawahnya lagi”.
Orang yang kedudukannya semakin tinggi di sisi Allah, maka akan semakin berat ujian dan cobaan yang akan diterimanya.
(Tafsir Showi, Tafsir Al Munir, Tafsir Qurthubi, Tafsir Thobari, Tafsir Baidhowi, Tafsir Futukhul ilahiyyah )













