Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 815-7515-7704

Halaqah TQM Jawa Tengah Tekankan Strategi Penguatan Mutu Pesantren di Era Digital

gambar panggung halaqah tqm jawa tengah di mahad aly askhabul kahfi

SEMARANG – Kantor Wilayah Kementerian Agama Jawa Tengah Bidang Diniyah dan Pondok Pesantren menyelenggarakan Halaqah Total Quality Management (TQM) Lembaga Formal Pesantren di Ma’had Aly Askhabul Kahfi Semarang, Sabtu (15/11/2025). Acara yang dihadiri ratusan mahasantri ini mengusung tema strategi penguatan mutu pendidikan pesantren di era disruptif digital.

H. Ali Ansori, M.Pd., Ketua Tim Sistem Informasi PD Pontren Kanwil Kemenag Jateng, dalam sambutan pembukaannya menegaskan posisi strategis Ma’had Aly dalam peta pendidikan Indonesia. “Askhabul Kahfi satu-satunya Ma’had Aly di kota, harus diistimewakan. 10–20 tahun lagi, yang berdiri di sini harus alumni Askhabul Kahfi,” tegasnya di hadapan peserta yang memadati aula pesantren.

Laporan Ketua Panitia dari Kantor Wilayah Kemenag Jawa Tengah, Hj. Fajriatul Muflihah, mengungkapkan perkembangan positif izin operasional Pendidikan Diniyah Formal (PDF) Ashabul Kahfi yang sedang dalam proses finalisasi. “Semoga segera terbit izin operasional PDF Ashabul Kahfi dan lahir lulusan mutafaqqih fiddin yang mampu memecahkan problem Indonesia,” harapnya.

Tiga Pilar Penguatan Mutu Pesantren

Seminar inti menghadirkan tiga pakar. Dr. H. Ali Maskur, S.H., M.H., dosen dari UIN Walisongo memulai pemaparannya dengan menegaskan kedudukan strategis Ma’had Aly dalam sistem pendidikan Indonesia. Menurutnya, Ma’had Aly adalah “anak kandung dan anak emas Kementerian Agama”, ditetapkan khusus untuk melahirkan ulama otoritatif yang benar-benar mutafaqqih fiddin.

Beliau kemudian menjelaskan bahwa masa depan keagamaan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas lulusan Ma’had Aly. Karena itu, mahasantri tidak boleh menjalani pendidikan secara pasif. Ia mengulang berkali-kali nasihat kunci yang menjadi penekanan utama:

“Belajar, belajar, dan belajar.”

Dr. Ali juga menyinggung besarnya kesempatan yang tersedia bagi santri hari ini, mulai dari beasiswa nasional, program BAZNAS, hingga ruang publikasi ilmiah. Mahasantri diimbau untuk menulis, mengirim artikel, dan aktif mengakses peluang yang sudah terbuka lebar.

Pada akhirnya, ia menegaskan bahwa tanggung jawab peningkatan kualitas bukan pada lembaga saja, tetapi terletak pada diri setiap mahasantri. Santri harus memanfaatkan waktunya untuk memperkuat tafaqquh fiddin sambil menyesuaikan diri dengan kebutuhan masyarakat modern.

Dr. Hj. Sari Hernawati, S.Ag., M.Pd., dosen dari Universitas Wahid Hasyim, membawakan materi dengan pendekatan komunikatif dan ringan. Ia menggambarkan pengalamannya sebagai santri serta pendidik untuk menegaskan bahwa identitas kesantrian harus menjadi fondasi kuat dalam menghadapi realitas sosial masa kini.

Ia menyampaikan bagaimana santri harus memiliki keseimbangan antara tafaqquh fiddin dengan kecakapan menghadapi dinamika masyarakat modern. Menurutnya, banyak masyarakat yang menjadikan figur agama di media sosial sebagai rujukan, walaupun mereka tidak selalu memiliki basis keilmuan pesantren. Kondisi ini harus disikapi oleh santri dengan ikut hadir dalam ruang dakwah digital dan sosial.

Beliau juga memberikan contoh pengalamannya tinggal di berbagai daerah untuk program pengabdian, di mana kehadiran santri justru mampu mengubah persepsi masyarakat dan menarik minat mereka terhadap pesantren. Ia mengatakan bahwa:

Profil santri yang baik dapat menjadi teladan dan menghidupkan kembali tradisi keagamaan masyarakat.

Dr. Sari menilai bahwa santri harus siap menjawab persoalan-persoalan dasar masyarakat seperti fikih ibadah, hubungan keluarga, pendidikan, hingga isu sosial. Di sini, kolaborasi disiplin ilmu menjadi penting. Tafsir dan fikih harus dikaitkan dengan sosiologi, psikologi, atau konteks kehidupan sehari-hari.

Gus Muhammad Rikza Saputro, M.Pd., M.M., dosen dari Ma’had Aly Askhabul Kahfi, menyoroti pentingnya manajemen mutu di pesantren dan bagaimana hal itu berkaitan erat dengan kualitas sumber daya manusianya, yaitu para santri. Ia memberikan refleksi pribadi mengenai kedisiplinan, integritas, dan konsistensi dalam belajar sebagai kunci utama penguatan mutu.

Salah satu contoh inspiratif yang ia sampaikan adalah tentang kedisiplinan dosennya, Dr. Sari Hernawati, yang “tidak pernah telat sekalipun” selama mengajar. Ia ingin menunjukkan bahwa kualitas lembaga hanya dapat diwujudkan melalui keteladanan nyata.

Beliau mengajak santri untuk menyerap pengalaman dan ilmu dari para narasumber, menggabungkannya, dan menerapkannya dalam khidmah sehari-hari. Pelaksanaan TQM di pesantren, menurutnya, tidak hanya soal sistem dan manajemen, tetapi bermula dari karakter personal santri: tertib, disiplin, amanah, dan beretika.

Ia menutup pemaparannya dengan ajakan agar para santri menyiapkan diri menjadi pemimpin dan penggerak organisasi keagamaan, pendidikan, dan sosial di masa depan, karena pesantren membutuhkan kader yang siap tampil dan memiliki kapasitas unggul.

Acara ditutup dengan foto bersama dan ramah tamah. Seluruh peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara dari awal hingga akhir.

Bagikan

Leave a Reply