Ribuan Santri Mulai Mondok di Ponpes Askhabul Kahfi, Kyai : Nangis keno, mulih ora keno.


Sumber : Jawapos

Suasana khidmat mewarnai acara pemasrahan santri dari wali santri kepada pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Askhabul Kahfi yang diwakili oleh KH Masruchan Bisri, Minggu (19/7/2020). Dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, gelombang pemasrahan santri putra dilakukan dalam tiga kloter dan dua kloter santri putri setiap kloter berisi 400 santri. Pemasrahan dilakukan sejak Jumat (17/7/2020) di Ponpes yang berlokasi di kawasan Polaman-Karangmalang, Mijen, Kota Semarang itu.

Pihak Ponpes Askhabul Kahfi, membagi setiap kloter 50 orang santri di dampingi wali santri bertemu dengan KH Masruchan Bisri, untuk mendapat nasehat dari pengasuh Ponpes tersebut.“Kepada anak-anakku yang hari ini sudah resmi menjadi santri dan wali santri, izinkan saya untuk menyampaikan tiga nasehat, yang saya bagi khusus untuk santri, wali santri dan kombinasi untuk santri sekaligus wali santri,” tutur KH Masruchan Bisri mengawali acara pemasrahan.

Untuk santri yang hari itu akan mengawali proses belajar di Ponpes Askhabul Kahfi, KH Masruchan Bisri mengungkapkan ada tiga hal yang akan dialami santri baru di awal-awal nyantri yakni gadog, galau dan gelisah. Gadog adalah saat dimana biasanya santri baru akan mengalami sesuatu yang tidak pernah mereka alami atau belum biasa mereka gunakan. “Lincahe koyo opo nek durung tahu nglakoni ya mesti gadog atau kagok itu sesuatu yang tidak enak, karena dirinya melakukan sesuatu yang tidak los, seolah-olah ada yang menahan, pasti ini tidak enak,” jelas KH Masruchan Bisri. Perasaan galau di awal menurut pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi tersebut juga akan di alami para santri baru. Galau, karena mereka akan meninggalkan kampung halamannya berpisah sementara waktu dengan teman-teman sepermainan dan kedua orang tuanya, berganti dengan teman-teman baru. “Perasaan gelisah juga akan di alami santri baru, karena mereka akan ditinggalkan orang tuanya kembali ke kampung halamannya, nah hal inilah yang akan memunculkan perasaan gelisah dari anak-anak,” terangnya. Untuk menghilangkan ketiga perasaan itu, KH Masruchan Bisri mengingatkan santri barunya untuk sejak dini menanamkan sikap sabar dan tabah. Dengan bergurau, pak Kiai meminta santri baru untuk wiridannya tidak usah yang sulit-sulit dulu. “Untuk awal-awal santri baru, wiridane gak usah yang lain-lain dulu, wiridane cukup bilang nangis keno bali ora keno, wes kuwi wae wiridane disik,” cetusnya yang di sambut tawa wali santri. Setelah mengetahui tiga hal yang akan dialami santri baru itu, KH Masruchan Bisri berpesan kepada wali santri untuk tidak cemas dengan keadaan tersebut, dia meminta wali santri untuk pengertian, dalam arti wali santri tidak boleh menemui dan berkomunikasi dengan putra putrinya selama 15 hari awal nyantri. “Kenapa tidak boleh? Karena anak-anak kita itu sedang beradaptasi dengan lingkungan barunya di pondok, karena itu mereka jangan diganggu dulu, orang tua harus mensuport tholabul ilmi atau belajar putra putri,” pesannya.

Pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi juga mengajak mereka untuk berpikiran positif. Dia mencontohkan, santri untuk tidak mudah melapor permasalahan yang mereka alami saat mondok kepada orang tuanya. “Disini yang menimba ilmu datang dari berbagai latar belakang, majemuk jadi satu, kalau ada permasalahan lapornya jangan sama orang tuanya, tapi laporlah pada bapak ibu guru, ustad atau pengurus biar mereka yang membantu menyelesaikan, karena kami sudah ada peraturan pondok yang akan menyelesaikan jika ada persoalan diantara santri,” tandasnya. Nasehat yang disampaikan pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi itupun makin menguatkan keyakinan wali santri untuk ‘menitipkan’ anak-anak mereka menuntut ilmu di pondok pesantren tersebut. “Setelah mendengar nasehat pak Kiai tadi, saya tambah mantap, semoga anak saya jadi anak yang tidak hanya berilmu tapi juga berakhlak,” tutur Safrudin, wali santri yang datang jauh-jauh dari Tarakan, Kalimantan Utara. Harapan lainnya di ungkapkan Ragil, warga Lempongsari, Semarang Selatan, yang mengantar anak pertamanya mondok di Ponpes Askhabul Kahfi.“Lihat lingkungan pondok disini, rasanya anak saya akan betah dan nyaman belajar, apalagi sejak kelas empat anak saya sudah berkeinginan mondok, tempatnya juga tidak jauh dari rumah kami,” tutur orang tua santri Rifqi Nanda Pratama ini. Di tahun ajaran baru 2020/2021, Ponpes Askhabul Kahfi menerima 1.027 santri putra dan putri. Selama pandemi Covid-19, pengurus Pondok Pesantren Askhabul Kahfi menerapkan protokol kesehatan ketat, mulai dari penyemprotan disinfektan saat memasuki pondok, pemakaian wajib masker, cuci tangan hingga pengaturan ruang belajar dan ruang isolasi mandiri di lingkungan Ponpes Askhabul Kahfi.

Sumber : https://radarsemarang.jawapos.com/advertorial/service/2020/07/21/ratusan-santri-mulai-mondok-di-ponpes-askhabul-kahfi-kiai-nangis-keno-muleh-ora-keno/
Copyright © Radar Semarang Digital