Tafsir Surah Al Qodar


Surah ini dinamakan surah Al Qodr yang berarti keagungan dan kemuliyaan. Surah ini terdiri atas lima ayat, tiga puluh kalimat dan seratus dua puluh satu huruf. Al Wahidi mengatakan bahwa surat ini merupakan surah pertama yang di turunkan di Madinah.

1) innā anzalnāhu fī lailatil-qadr

“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam qodar”. ( Al Qodr : 1)

Maknanya ialah : bahwa Allah menurunkan Al Qur`an pertama kali pada malam Lailatul Qodr di bulan Romadhon. kemudian Allah menyempurnakan penurunan Al Qur`an tersebut. setelah itu secara berangsur – angsur selama dua puluh tiga tahun, sesuai kebutuhan, realitas dan peristiwa, untuk menjadi penjelas hukum Allah dalam hal – hal tersebut.

Firman Allah QS Al Baqoroh ayat 185 :” Bulan Romadhon adalah ( bulan ) yang di dalamnya di turunkan Al Qur`an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan – penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda ( antara yang benar dan yang bathil )”. Dan Firman Allah dalam Surah Asy-Syuara` ayat 195 :” Dan Al Qur`an itu telah kami turunkan dengan berangsur – angsur kamu membacanya perlahan lahan terhadap manusia dan kami menurunkannya bagian demi bagian”.

Riwayat yang menjelaskan bahwa Allah menurunkan Al Qur`an sekaligus (  جُمْلَةً وَاحِدَةً  ) dari Lauh Mahfudz kelangit dunia dengan perantara malaikat Safaroh Kiromil Baroroh. Kemudian Jibril menurunkannya kepada Rosulullah SAW secara berangsur – angsur selama dua puluh tiga tahun. Ibnu Arabi berkata :” bahwa riwayat ini bathil karena tidak ada perantara antara Malaikat Jibril dan Allah dan Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad SAW”.

Khikmah turunnya Al Qur`an dengan berangsur – angsur

1) Menguatkan dan mengukuhkan hati Nabi Muhammad SAW dalam rangka menyampaikan dakwahnya dalam menghadapi celaan orang – orang musyrik. Firman Allah QS Al Furqon ayat 32 :” Berkatalah orang – orang kafir,” Mengapa Al Qur`an itu tidak diturunkan kepadanya sekali turun saja ( جُمْلَةً وَاحِدَةً ) demikianlah supaya kami perkuat hatimu dengannya dan kami membacakan secara tartil ( teratur dan benar ).

2) Untuk memudahkan hafalan dan pemahaman, karena Al Qur`an di turunkan di tengah – tengah umat yang ummi ( tidak pandai membaca dan menulis ). Firman Allah QS Al Qomar ayat 17 :” Dan sungguh telah kami mudahkan Al Qur`an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?”.

3) Dengan cara ber angsur – angsur, turunnya ayat sesuai dengan peristiwa yang terjadi akan lebih berkesan di hati, karena segala persoalan dapat di tanyakan langsung kepada Nabi SAW.

seperti yang terjadi, dan Al Qur`an langsung menjawabnya, dalam persoalan istri Su`ad bin Rabi` yang datang kepada Rosulullah. Di riwayatkan oleh Jabir bin Abdullah, berkata : Ya Rosul ! Kedua anak perempuan ini adalah putri dari Su`ad yang terbunuh dalam perang Uhud, dan pamannya tidak memberikan hak keduanya. Maka bersabda Rosulullah SAW dalam persoalan tersebut dengan turunnya ayat Q.S An – Nisa` : 11,” Allah mensyari`atkan ( mewajibkan ) kepadamu tentang ( pembagian warisan untuk ) anak – anakmu, ( yaitu ) bagian seorang anak laki – laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang di tinggalkan. Jika dia ( anak perempuan ) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah ( harta yang di tinggalkan ). Dan untuk kedua ibu – bapak bagian masing – masing seper enam dari harta yang di tinggalkan, jika dia ( yang meninggal ) mempunyai anak. Jika ia ( yang meninggal ) tidak mempunyai anak dan dia di warisi oleh kedua ibu – bapaknya ( saja ), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika ia ( yang meninggal ) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seper enam ( pembagian – pembagian tersebut di atas ) setelah ( di penuhi ) wasiat yang dibuatnya atau ( dan setelah di bayar ) hutangnya tentang orang tuamu dan anak – anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara  mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu, ini adalah ketetapan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana. ( QS. An – Nisa` : 11 ).

4) Sebagai pendidikan terhadap umat Islam, dengan turunnya Al Qur`an dengan cara bertahap. hal ini merupakan pelajaran bagi umat Islam agar senantiasa sabar dan hati – hati dalam menghadapi segala cobaan dan bertahap dalam memahami hukum Islam.

5) Sebagai mu`jizat / bukti yang pasti, bahwa Al Qur`an benar-benar dari sisi Allah Tuhan Yang Maha Suci. bila terjadi pengingkaran terhadap Al Qur`an, maka Allah SWT menentang mereka untuk membuat yang serupa dengannya dan mereka pasti tidak akan bisa. Firman Allah SWT QS Al Isro` 88 :” Katakanlah: “Sesungguhnya jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa ( dengan ) Al Quran ini, mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengannya, sekalipun mereka saling membantu satu sama lain”.

Keagungan Al Qur`an

Imam Zamakhsyari R.A berkata :” Allah mengagungkan Al Qur`an dari tiga segi “:

1) Menisbatkan penurunannya kepada-Nya dan menjadikan hal itu khusus bagi-Nya bukan yang lain.

2) Al Qur`an di sebutkan dengan menggunakan dhomir ( ٥ / hu  ) bukan lafalnya langsung (القرآن ). Demikian ini merupakan pengakuan kemasyhuran sehingga tidak butuh lagi untuk di sebutkan secara jelas.

3) Mengangkat nilai waktu saat Al Qur`an itu di turunkan.

Redaksi / Susunan Al Qur`an

Al Qur`an terdiri dari 30 juz, 1.027.000 huruf, 77.450 kalimat, 6.666 ayat, 114 surah. 83 surah turun di Makkah dan 31 surat turun di Madinah. ayat yang pertama turun adalah surah Al Alaq / Al Qolam dan ayat akhir yang turun adalah surat Al Maidah ayat 3. sedangkan yang meletakkan surat dan ayat adalah Nabi Muhammad SAW sendiri.

Garis – garis besar isi Al Qur`an

1) Taukhid,
2) Ibadah Syariah,
3) Al Wa`du wal wa`id ( janji dan ancaman ),
4) Qishoh ( sejarah orang – orang yang sholeh maupun orang – orang yang dzolim ),
5) Hukum,

Al Qur`an ditinjau dari segi ayat – ayat hukum berjumlah 320 ayat, 280 ayat berkenaan dengan mu`amalat, yang di rinci lagi, ayat hukum yang berkaitan dengan pribadi sebanyak 70 ayat, pidana 30 ayat, interaksi antar muslim 25 ayat, acara pengadilan 13 ayat, hukum ekonomi dan keuangan 10 ayat.

Makna Lailatul Qodr (  لَيۡلَةُ الۡقَدۡر    )

Menurut Ulama` ahli tafsir, Lailatul Qodr memiliki banyak makna antara lain :

1) Malam Keagungan dan kemuliyaan  (  الْعُظْمَة وَالشَّرَف )

2) Malam penetapan (  لَيۡلَةُ التقدير  )
Mujahid menafsirkan, makna Lailatul Qodr adalah malam di tetapkannya ketentuan – ketentuan, karena pada malam itu Allah menetapkan segala sesuatu yang di kehendakinya, dari malam itu hingga malam yang sama di tahun berikutnya, semua hal yang menyangkut dengan kematian, jodoh, rezeki, dsb kemudian semua ketetapan itu di serahkan kepada para petugas / pengurus yang mengurusinya di bidangnya masing – masing, yaitu Malaikat Jibril, Isrofil, Mikail dan Izroil. Firman Allah QS Ad-Dukhan ayat 4 :” Pada malam itu di jelaskan segala urusan yang penuh khikmah”.

3) Kedudukan tinggi (  ذاقدر   )
Menurut suatu pendapat  (قِيْلَ ) pada malam itu diturunkannya sebuah kitab suci ( Al Qur`an ) yang memiliki kedudukan tinggi kepada Rosul yang juga memiliki kedudukan tinggi untuk umatnya yang di anugerahkan kedudukan yang tinggi ( di banding umat lain ).

4) Sempit ( ضَيْقٌ )
Al Kholil berpendapat bahwa makna Al Qodr adalah sempit, yakni : bumi menjadi sempit karena di penuhi oleh para malaikat yang turun dari langit.

2. wa mā adrāka mā lailatul-qadr, 3)  lailatul-qadri khairum min alfi syahr

“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?, Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan ” ( Al Qodr : 2 – 3)

Maksudnya adalah : Apakah engkau tahu hai Muhammad, apakah malam Qodar itu ?
Kalimat ini merupakan istifham ( pertanyaan ) yang bertujuan untuk membesarkan dan mengagungkan malam Lailatul Qodar.

Al Farra` berpendapat, setiap ayat di dalam Al Qur`an yang menyebutkan kalimat مَا أَدْرَىٰكَ maka pertanyaan itu akan di jawab pula dengan pemberitahuan. Namun jika yang di sebutkan adalah kalimat مَايُدرِيْكَ  maka jawabannya tidak diberitahukan. Maksud ayat tersebut ialah : Setiap amal sholeh yang di lakukan di malam Lailatul Qodr lebih baik daripada amal sholeh yang dikerjakan selama seribu bulan yang tidak ada lailatul qodarnya. Di malam tersebut banyak kebaikan di bagikan yang tidak akan didapati di dalam seribu bulan. Mujahid berkata : “amalnya, puasanya, sholat malamnya lebih baik daripada seribu bulan yang tidak ada Lailatul Qodarnya. Seribu bulan sama dengan delapan puluh tiga tahun lebih empat bulan”

Sebab turunnya ayat ini, Ibnu Jarir meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata :” Dahulu di kalangan Bani Isroil terdapat seorang laki – laki yang selalu sholat pada malam hari hingga pagi harinya dan pada siang harinya ia berjihad sampai petang hari. Dia melakukannya selama seribu bulan. Rosulullah dan kaum muslimin kagum dengan kisah tersebut, maka Allah menurunkan ayat ini, yakni Lailatul Qodar bagi umatku lebih  baik daripada seribu bulan bagi laki – laki Bani Isroil itu”.

4) tanazzalul-malā`ikatu war-rụḥu fīhā bi`iżni rabbihim, ming kulli amr


” Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan”. ( Al Qodr : 4)

Kata وَٱلرُّوحُ pada ayat ini maknanya adalah Malaikat Jibril. Firman Allah SWT فِيْهَا ( pada malam itu ) yakni pada Lailatul Qodr. بِإِذْنِ رَبِّهِمْ dengan izin Tuhannya. yakni, dengan perintah Allah. مِنْ كُلِّ أَمْرٍ  untuk megatur segala urusan, yakni dengan membawa ketetapan yang telah di tetapkan oleh Allah untuk satu tahun ke depan. Menyebutkan sesuatu yang khusus setelah yang umum, ( menyebutkan Jibril setelah para Malaikat ), ini bertujuan untuk menunjukkan kemuliaan Jibril di antara para malaikat yang lain.

Maksud ayat ini ialah : para Malaikat turun ke bumi dari segala penjuru langit dan Sidratil Muntaha. Malaikat Jibril yang bertempat di antara langit dan Sidratil Muntaha juga turun, mereka mengamini do`a manusia hingga fajar. Mereka turun pada malam Lailatul Qodar sebab di perintah oleh Allah. Demikian ini penafsiran dari Ibnu Abbas.

Namun berbeda dengan penafsiran yang di sampaikan oleh Al Kalbi, ia menyatakan bahwa Malaikat Jibril beserta para Malaikat lainnya turun ke bumi lalu memberi salam kepada setiap orang yang berstatus sebagai orang Islam. Dan penafsiran ini sesuai dengan penafsiran yang di sampaikan oleh Anas RA, bahwa Nabi pernah bersabda : ” Apabila telah datang Lailatul Qodar, maka Malaikat Jibril akan turun ke bumi bersama rombongan malaikat lainnya, untuk menyampaikan sholawat dan menyampaikan salam kepada setiap hamba yang mendirikan sholat atau sedang berdzikir kepada Allah SWT.

5) salāmun hiya ḥattā maṭla’il-fajr

” Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar”. ( Al Qodr : 5)           

Para Ulama` berpendapat bahwa kata سَلَامٌ pada ayat ini adalah permulaan kalimat, dan kalimat مِنْ كُلِّ أَمْرٍ adalah penghujung dari kalimat sebelumnya. Oleh karena itu bacaan di hentikan pada kata أَمْرٍ, kemudian di lanjutkan kembali pada kata سَلَامٌ .  سَلَامٌ هِيَ ,dhomir  هِيَ merupakan mubtada` muakhor sedangkan سَلَامٌ adalah khobar muqoddam. Makna ayat ini adalah : Malam Lailatul Qodr adalah malam keamanan dan keselamatan serta kebaikan dan keberkahan dari Allah SWT, sepanjang malam sampai terbit fajar.
Malam Lailatul Qodar adalah malam yang sangat istimewa yang diberikan oleh Allah kepada para hamba-Nya. Namun tidak semua orang bisa mendapatkannya kecuali orang yang berusaha dan menggunakan waktu untuk beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Bukhori Muslim, Nabi bersabda :” Barang siapa beribadah pada malam Lailatul Qodar dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lampau akan di ampuni”. Dan dalam Hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad :” Malam Lailatul Qodar terdapat di sepuluh malam akhir, barangsiapa beribadah di malam tersebut karena mengharap pahalanya, maka sesungguhnya Allah SWT akan mengampuni dosanya yang akan datang dan yang telah lampau”. Malam tersebut adalah malam ganjil, sembilan, tujuh, lima, tiga atau malam terakhir.
Jumhur ulama` berpendapat bahwa malam Lailatul Qodr ini akan selalu ada di setiap tahunnya dan di khususkan untuk bulan Romadhon.

Tanda – tanda Lailatul Qodar

Di antara tanda – tanda Lailatul Qodr adalah matahari di pagi harinya terlihat putih dan tidak terlalu memancarkan sinarnya. Diriwayatkan oleh Abu Daud dari Ibnu Abbas bahwasanya Rosulullah SAW bersabda mengenai malam Lailatul Qodar :” Malam yang sangat nyaman dan terang, tidak panas dan tidak dingin. Dan matahari di pagi harinya  sinarnya kelihatan lemah dan berwarna merah”. Dan hadits yang di riwayatkan oleh Abi Ashim dari Jabir bin Abdillah. Nabi Muhammad SAW bersabda :” Sesungguhnya aku pernah melihat Lailatul Qodr, lantas aku di lupakan mengenainya. Malam tersebut ada di sepuluh malam terakhir dari malam – malamnya. Malam tersebut sangat cerah, tidak panas dan tidak dingin seakan – akan di malam tersebut ada rembulan. Setan tidak akan keluar hingga terbit fajar”.

Hikmah di rahasiakannya malam Lailatul Qodr           

Hikmah di rahasiakannya malam Lailatul Qodar tersebut seperti khikmah di rahasiakannya kematian dan hari kiamat, agar setiap orang senantiasa senang dalam beribadah, tidak lalai, tidak malas dan tidak bergantung serta tidak sembrono. Lailatul Qodar merupakan rahmat besar bagi siapa saja yang ingin meraihnya. Jika seorang hamba sungguh – sungguh untuk mencari Lailatul Qodar dengan menghidupkan malam – malam yang di sangka merupakan Lailatul Qodar, Allah akan membanggakan hal itu kepada para Malaikat. Allah berfirman :” Wahai para malaikat, kalian mengatakan mengenai manusia, Apakah Engkau akan menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana”. ( Al Baqoroh : 30 ). Ini merupakan kesungguhan mereka dalam perkara yang masih perkiraan, bagaimana seandainya Aku menjadikan Lailatul Qodar itu di ketahui oleh manusia ? Hal ini mengungkap rahasia Firman Allah :” Sungguh Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui”. ( Al Baqoroh : 30 )             Penjelasan ini di ambil dari beberapa Kitab Tafsir, antara lain Tafsir Thobari, Tafsir Qurthubi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Baidhowi, Tafsir Al Munir, dan lain – lain.

penulis : KH Masruchan Bisri
Artikel ini telah ayang di Jawa Pos Radar Semarang tanngal 18 Mei 2020