Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 856-0150-5818

ISRA MIKRAJ | TAFSIR SURAH AL ISRA` AYAT 1

Surah Al Isra` juga dinamakan surah Bani Isro`il dan surah Subkhaan.

Ia tergolong surah makkiyah, selain dua ayat yaitu ayat 76 dan 80, ayat ini termasuk madaniyyah.

Surah ini terdiri atas seratus sebelas ayat, seribu lima ratus tiga puluh kalimah dan enam ribu empat ratus enam puluh huruf.

Keutamaan surah

Ahmad, At-tirmidzi, Nasa`i dan yang lainnya meriwayatkan dari Aisyah RA; bahwa Nabi Muhammad SAW pada setiap malam membaca surah Bani Isra`il dan Az-Zumar. Al Bukhori dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Mas`ud RA; bahwa dia berkata tentang surah Bani Israil yakni surah ini, surah Al Kahfi, Maryam, Thaahaa dan Al Ambiya`;”surah-surah tersebut termasuk surah-surah yang pertama turun dan mempunyai keutamaan karena mengandung kisah-kisah”.

Bismillahirrahmanirrahim

Sub-ḥānallażī asrā bi’abdihī lailam minal-masjidil-ḥarāmi ilal-masjidil-aqṣallażī bāraknā ḥaulahụ linuriyahụ min āyātinā, innahụ huwas-samī’ul-baṣīr

Terjemah : “Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat”.

(سُبْحَانَ)  قَوْلُهُ  adalah masdar sama`i dari sabbakha yang bertasydid, atau isim masdar bagi sabbakha dan atau masdar kiyasi dari sabbakha tidak bertasydid. Dan kata subkhaana adalah maf`ul mutlaq yang dibaca nashob dengan fi`il yang diperkirakan yaitu : سَبَحْتُ سُبْحَانَ

Hikmah dan faidah diawali dengan tasbih terlebih dahulu adalah : pertama membersihkan Allah dari sifat lemah atau apes ( تَنْزِيْهُ لِلّٰه عَنْ صِفَةِ الْعَجْزِ ); kedua membersihkan dan membebaskan Allah dari segala kekurangan (اَلْتَنْزِيْه وَالْبَرَاءَة لِلّٰه عَزَّوَجَلَّ مِنْ كُلِّ نَقْصٍ); dan yang ketiga membersihkan Allah dari segala kejelekan. (تَنْزِيْهُ لِلّٰه مِنْ كُلِّ سُوْءٍ)

(اَسْرٰى)  قَوْلُهُ adalah fi`il lazim yang artinya berjalan di malam hari.

دُوْنَ نَبِيِّه أَوْ حَبِيْبِهِ أَوْ بِرَسُوْلِه (بِعَبْدِهٖ)  قَوْلُهُ

Disini disebutkan bi `abdihi yang artinya dengan hambanya, bukan binabiyihi atau bikhabibihi atau birosulihi, demikian ini mengandung beberapa hikmah yaitu :”pertama agar umat Nabi Muhammad SAW tidak tersesat seperti umatnya Nabi Isa AS yang menganggap Nabi Isa adalah Tuhan. Kedua isyarah atau petunjuk bahwa sifat menghamba kepada Allah (عُبُوْدِيَة) adalah merupakan sifat khusus dan sifat yang paling mulia. Ketiga menandakan bahwa peristiwa isra` yang dijalankan oleh Nabi Muhammad SAW adalah dengan ruh dan jasadnya (بِرُوْحِهِ وَجَسَدِهِ).

(لَيْلًا)  قَوْلُهُ dibaca nasob karena menjadi dhorof. Ia adalah nakiroh, dan tanwin yang ada menunjukkan makna sedikit (ِللتَّقْلِيْل) yakni sebagian kecil dari satu malam. Sebagian ulama` berpendapat empat jam dan sebagian yang lain berpendapat tiga jam.

اى الْقَاصِي (مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَى)  قَوْلُهُ

Masjidil Aqsha adalah masjid yang kedua kali dibumi yang dibangun oleh Nabi Adam AS. Empat puluh tahun setelah membangun Masjidil Haram di Mekkah. Dinamakan Masjidil Aqsha karena jarak antara Masjidil Haram dengan Masjidil Aqsha sangat jauh. Perjalanannya ditempuh kurang  lebih satu bulan atau lebih (اَلْمَسَافَةُ بَيْنَهُمَا قَدْرُشَهْرٍ اَوْ اَكْثَر).

Masjidil Aqsha juga dinamakan Baitul Maqdis yang berarti rumah yang suci dari ibadah selain kepada Allah SWT. Di dalamnya tidak pernah ada berhala atau patung yang disembah.

Leave a Reply