SEJARAH INDONESIA SEBELUM DAN MENJELANG KEMERDEKAAN


Sekitar 2.500 santri Pondok Pesantren Askhabul Kahfi dan Pondok Pesantren Roudlotul Muttaqin berkumpul di halaman kampus putri ( kampus 3 ) Pondok Pesantren Askhabul Kahfi, Karangmalang, Mijen, Kota Semarang dalam rangka memperingati kemerdekaan Republik Indonesia ke 74. Guna untuk menanamkan jiwa patriotik, pada acara ini pengasuh ponpes KH. Masruchan Bisri memaparkan sebuah judul “ Sejarah Indonesia Sebelum dan Menjelang Kemerdekaan “.

Indonesia di Masa Kerajaan

1) Kerajaan Kutai ( Kutai Martadipura )

Kerajaan ini merupakan kerajaan Hindu tertua yang berdiri sekitar abad ke 4 M, di Muara Kaman, Kalimantan Timur. Kerajaan ini di bangun oleh Kudungga.

2) Kerajaan Tarumanegara

Kerajaan ini berdiri pada tahun 358 M, di dirikan oleh Rajadirajaguru Jayasingawarman di Jawa Barat dan pusat kerajaannya di Bekasi.

3) Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan yang menganut agama Budha ini berdiri pada abad ke 7 di Sumatra dan pusat kerajaannya di Palembang. Pada puncak kejayaannya, Sriwijaya menguasai daerah sejauh Jawa Barat dan Semenanjung Melayu. 

4) Kerajaan Mataram Kuno

Kerajaan ini menurut Prasasti Canggal berdiri pada tahun 732 M. Terletak di desa Canggal ( sebelah barat Magelang ) Jawa Tengah. Raja pertama adalah Sanjaya yang juga merupakan pendiri wangsa ( dinasti ) Sanjaya, Kerajaan Mataram Kuno ini juga sering di sebut Kerajaan Medang. Tercatat terdapat 3 wangsa yang pernah menguasai Kerajaan Mataram Kuno, yaitu Wangsa Sanjaya ( Hindu ), Wangsa Syailendra ( pengikut agama Budha ). Dimasa ini agama Hindu dan Budha berkembang bersama di Kerajaan Mataram Kuno, yang beragama Hindu tinggal di Jawa Tengah bagian Utara dan yang Budha tinggal di Jawa Tengah bagian Selatan. Dan Wangsa yang ketiga yaitu wangsa baru yang didirikan oleh Mpu Sindok. 

Banyak peninggalan Kerajaan Mataram Kuno, salah satunya adalah Candi Borobudur. Menurut sejarawan J.G. de Casparis, ia menemukan bukti dari sebuah Prasasti Karang Tengah dan Kahuluan, bahwa Candi Borobudur ini di dirikan oleh Raja Samaratungga sekitar tahun 824 M. Dia adalah Raja Mataram Kuno dari Wangsa Syailendra ( Pengikut Budha ).

5) Kerajaan Singosari

Kerajaan Singosari berada di Jawa Timur, didirikan oleh Ken Arok pada tahun 1222 M. Pusat kerajaan berada di daerah Singosari, Malang, Jawa Timur. Pada tahun 1268, Kertanegara naik tahta menjadi Raja Singosari menggantikan Ranggawuni, ia menjadi raja terakhir dan yang membuat Singosari berjaya. Ia memiliki cita-cita ingin menyatukan Nusantara. Namun pada tahun 1292 ia di bunuh oleh Jayakatwang, dan berakhirlah Kerajaan Singosari.

6) Kerajaan Majapahit

Kerajaan Majapahit adalah kerajaan Hindu yang didirikan oleh Raden Wijaya pada tanggal 15 bulan Kartika 1215 atau 10 November 1293 M, berada di Jawa Timur dan Ibu Kotanya di desa Trowulan, Mojokerto.Raden Wijaya adalah pendiri sekaligus raja pertama Majapahit yang di beri gelar Kertarajasa Jayawardhana. Ia melakukan konsolidasi dan memperkuat pemerintahan karena kerajaan ini merupakan transisi kerajaan sebelumnya yaitu Singosari.

Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa Raja Hayam Wuruk yang bergelar Rajasa Negara yang di bantu oleh patihnya yaitu Gajah Mada yang terkenal dengan Sumpah Palapa-nya. Majapahit menjadi lebih besar dan terkenal di Nusantara serta menguasai lebih banyak wilayah di antaranya : Surabaya, Maluku, Papua, Kalimantan, Semenanjung Malaya, Tonase ( Singapura ), sebagian Kepulauan Philipina dan berhasil menaklukan Kerajaan Sriwijaya Palembang. Prabu Brawijaya V / Kertabhumi adalah raja terakhir Majapahit, ia memiliki anak 117 orang putra putri dari beberapa istri dan selir. Majapahit bubar akibat perang saudara yang di kenal dengan Perang Paregreg. Kerajaan Majapahit berdiri tahun 1293 M – 1500 M.

7) Kerajaan Islam Demak

Pada awalnya Demak di kenal dengan nama Glagah Wangi. Demak juga di kenal dengan sebutan Bintoro. Demak merupakan salah satu Kadipaten Majapahit. Setelah Majapahit runtuh tahun 1500 M, Raden Patah mendirikan Kesultanan Demak dengan gelar Sultan Alam Akbar al Fatah ( 1500 M – 1518 M ). Pada tahun 1518 Raden Patah wafat dan di gantikan anaknya yang bernama M. Yunus / Pati Unus yang mendapatkan julukan Pangeran Sabrang Lor. Pati Unus hanya memerintah selama 3 tahun. Ia wafat dalam usia muda dan belum punya anak, maka ia di gantikan oleh adiknya yang bernama Sultan Trenggono ( 1521 – 1546 M ).

Di bawah kepemimpinannya, Demak mencapai puncak kejayaannya. Pada waktu Portugis mulai memperluas pengaruhnya ke Jawa Barat dan akan mendirikan benteng serta kantor di Sunda Kelapa yang di dukung oleh Pajajaran, maka Sultan Trenggono mengirim pasukan dari Demak yang dipimpin oleh Fatahillah, dan Ia berhasil menduduki Banten dan Cirebon serta mengusir Portugis dari Sunda Kelapa pada tanggal 22 Juni 1527 M. Sejak itu Sunda Kelapa di rubah namanya oleh Fatahillah menjadi Jayakarta ( Jaya = kemenangan, Karta = Sempurna ). Jayakarta : kemenangan yang sempurna.

Sultan Trenggono wafat pada tahun 1546 dan setelah wafatnya, terjadi perebutan kekuasaan antar keluarga kerajaan dan akhirnya kemenangan ada pada Joko Tingkir kemudian dia naik tahta dengan gelar Sultan Hadiwijaya dan pusat pemerintahannya di pindah dari Demak ke Pajang ( Surakarta ).

8) Kerajaan Pajang

Kesultanan Pajang berada di Jawa Tengah sebagai kelanjutan Kesultanan Demak dan Istana kesultanannya berada di Pajang ( Surakarta ). Pendiri dan raja pertama adalah Joko Tingkir yang mempunyai nama asli Mas Karèbèt. Pangeran Benawa adalah generasi raja ketiga dan raja terakhir di Pajang, dia adalah anak Sultan Hadiwijaya ia bergelar Sultan Prabu Wijaya dan wafat pada tahun 1586 dan wafatnya Prabu Wijaya merupakan akhir dari Kerajaan Pajang.

9) Kerajaan Mataram Islam

Kerajaan Mataram Islam berada di Tanah Jawa. Kerajaan ini merupakan kerajaan lanjutan dari Kerajaan Pajang. Sejak tahun 1586 pusat pemerintahan dipindahkan dari Pajang ke Mataram oleh Sutawijaya. Sutawijaya naik tahta Kerajaan Mataram dengan gelar Panembahan Senopati ing Alaga Sayidin Panatagama ( 1586 – 1601 ).
Mataram mencapai puncak kejayaannya pada masa Raden Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Hanyakrakusuma Senapati Ing Alaga Ngabdurahman ( 1613 – 1645 ), wilayah kekuasaannya mencakup Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sebagian Jawa Timur seperti Tuban, Surabaya dan Madura. Sultan Agung tidak hanya melakukan penaklukan wilayah, tapi juga gigih melawan VOC. Beliau wafat tahun 1645 dan di makamkan di Imogiri, dan Ia di gantikan putranya bernama Raden Mas Sayidin yang bergelar Amangkurat I . 

Pada masa ini Belanda mulai masuk ke wilayah Mataram dan Amangkurat I menjalin hubungan baik terhadap Belanda, serta berlaku sewenang – wenang sehingga menimbulkan banyak pemberontakan yang akhirnya Amangkurat I tewas tahun 1677 dan Ia di gantikan anaknya yang bernama Raden Mas Rahmat ( Amangkurat II ). Pada masa ini Mataram semakin sempit karena wilayah kekuasaanya di ambil oleh VOC. Kemudian Ibukota kerajaan di pindah ke Kartosuro oleh Amangkurat II. Setelah Amangkurat II meninggal tahun 1703, Ia diganti oleh Amangkurat III ( R. Mas Sutikna ). Karena banyak persoalan membuat ia mengungsi dan selanjutnya Raja Mataram di pegang oleh Pangeran Puger yang nama kecilnya R. Mas Derajat ( anak Amangkurat I ) dan bergelar Pakubuwono I, dan ia meninggal tahun 1719 . Ia di gantikan putranya R. Mas Suryaputra yang bergelar Amangkurat IV. Raja ini hanya berkuasa selama 7 tahun, pada tahun 1726 ia meninggal dan ia di gantikan putranya  Raden Mas Prabasuyasa yang bergelar Pakubuwono II, dan ini merupakan raja terakhir dari Kasunanan Kartosuro. Ia membangun istana baru di desa Sala bernama Kasunanan Surakarta dan menjadi raja pertama Kasunanan Surakarta. Pada tahun 1749 Pakubuwono II meninggal dan di gantikan putranya yang bernama Raden Mas Suryadi dengan gelar Pakubuwono III.
Persengkataan antara Pakubuwono III dan Mangkubumi membuahkan Perjanjian Giyanti yang ditanda tangani bersama pada 13 Februari 1755. Melalui perjanjian ini Kerajaan Mataram di pecah menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Dan batas wilayahnya adalah Kali Opak ( ke timur wilayah Surakarta dan ke Barat wilayah Yogyakarta ). Kasunanan Surakarta di pimpin oleh Pakubuwono III ( Raden Mas Suryadi ). Kasultanan Yogyakarta, Mangkubumi sebagai rajanya yang bergelar Sultan Hamengkubuwono I.  Setiap raja Kasunanan Surakarta bergelar Sunan, sedangkan Raja Kasultanan Yogyakarta bergelar Sultan. Dengan riwayat ini Kerajaan Mataram Islam baik secara de facto maupun de jure telah berakhir.

Indonesia di Zaman Penjajahan Portugis

Di bawah pimpinan Afonso de` Albuquerque bangsa Portugis yang merupakan bangsa Eropa pertama kali datang ke Kepulauan Nusantara / Indonesia pada tahun 1511 M. Percobaan awal Portugis mendirikan koalisi dan perjanjian damai dengan Kerajaan Sunda di Parahyangan pada tahun 1512 M. Namun Portugis tidak begitu lama, karena sikap permusuhan yang di tunjukkan oleh sejumlah Kerajaan Islam di Jawa, seperti Demak dan Banten, kemudian Portugis berpindah ke Indonesia Timur yaitu Maluku, Ternate, Ambon dan Solor. Pengaruh Portugis di Nusantara cukup banyak, antara lain : Berekembangnya agama Kristen terutama di Maluku, berkembangnya aliran Musik Keroncong, kosa kata bahasa Indonesia, seperti : pesta, sabun, bendera, meja, dll. Portugis menjajah Indonesia +- selama 129 tahun yaitu dari tahun 1512 M – 1641 M. 

Indonesia di Zaman Penjajahan Belanda

Belanda / Nederland dalam bahasa Belanda, Neder artinya rendah , land artinya tanah. Belanda adalah Negara kecil di belahan bumi Eropa. Luasnya 41.543 KM persegi, sekitar 18,41 % wilayah perairan, 20 % terletak di bawah permukaan air laut dan 50 %-nya berada di ketinggian kurang dari 1 meter dari permukaan air laut. 

Meskipun termasuk Negara kecil namun Belanda memiliki mental berlayar yang cukup tangguh pada masanya. Selama 1 tahun berlayar  4 buah kapal yang di pimpin oleh Cornelis de Houtman pada bulan April 1595 M tiba di Pelabuhan Banten. Karena sifatnya Cornelis de Houtman yang kasar dan sombong membuat masyarakat tidak menyambut baik. Berselang 2 tahun berbekal dari pengalaman Belanda mencoba datang kembali ke Indonesia yang dipimpin oleh Jacob van Neck dan kedatangan mereka ini di sambut baik oleh masyarakat dan penguasa Banten. Tujuan awal kedatangan Belanda adalah untuk berdagang rempah-rempah. Setelah Belanda merasa telah mendapatkan keuntungan yang besar, maka Belanda memutuskan untuk melakukan monopoli perdagangan, dan ini menandai awal penjajahan Belanda di Indonesia.

Tujuh tahunan Belanda di Indonesia, tepatnya tanggal 20 Maret 1602 Belanda mendirikan organisasi / perusahaan dagang bernama :  Vereenigde Oostindische Compagnie ( VOC ) di wilayah Asia yang markasnya di Batavia ( Jakarta ) karena letaknya yang strategis. VOC menerapkan Cultuur Stelsel atau sistem tanam paksa. Dalam sistem ini rakyat pribumi di paksa untuk menanam hasil perekebunan yang menjadi permintaan pasar dunia, seperti teh, kopi dll yang di beli dengan harga yang sangat murah, sehingga membuat rakyat pribumi semakin sengsara, hal ini memicu perlawanan bangsa Indoneisa yang berasal dari berbagai penjuru seperti Perang Diponegoro, Perang Paderi, Perang Aceh, Perang Banjar, Perang Bali, dll.

Indonesia di Masa Jepang

Bulan Mei 1940, awal perang dunia II, Belanda telah di duduki oleh Nazi Jerman. Bulan Oktober 1941 Jendral Hideki Tojo menggantikan Konoe Fumimaro sebagai Perdana Menteri Jepang. Kemudian di bulan Desember tahun itu pula Jepang mulai menaklukan Asia Tenggara. 7 Desember 1941 Jepang membom Pearl Harbor ( pangkalan terbesar Angkatan Laut Amerika di Pasifik ) lebih dari 2.330 serdadu Amerika tewas dan lebih dari 1.140 lainnya luka-luka. Tanggal 8 Desember 1941 Konggres Amerika menyatakan perang terhadap Jepang, begitu pula Gubernur Jendral Hindia Belanda Tjarda van Starkenborgh Stachouwer menyatakan perang terhadap Jepang. 11 Januari 1942 tentara Jepang tiba  di Tarakan, Kalimantan Timur ( sekarang Kalimantan Utara ) dan esok harinya komandan Belanda menyerah. 24 Januari Balikpapan yang merupakan sumber minyak ke 2 jatuh ke tangan Jepang, 3 Februari Samarinda dan lapangan terbang Samarinda II di kuasai, 10 Februari Banjarmasin berhasil di duduki dan 16 Februari Palembang dan sekitarnya juga berhasil di rebut oleh Jepang.

Dengan jatuhnya Palembang, maka terbukalah Pulau Jawa bagi tentara Jepang. Tanggal 1 Maret 1942 Jepang mendaratkan satu Detasemen yang di pimpin oleh Kolonel Toshinori Shoji dengan kekuatan 5.000 orang di Eretan ( sebelah barat Cirebon ), pada hari itu pula Kolonel Toshinori Shojimampu menduduki Subang dan Lapangan terbang Kalijati ( 40 Km dari Bandung ).

Tanggal 2,3 dan 4 Maret 1942 berturut-turut Belanda berusaha merebut kembali Subang dan Lapangan terbang Kalijati, namun usahanya gagal dan mereka berhasil di pukul mundur oleh Tentara Jepang. Tanggal 5 Maret, Kota Batavia ( Jakarta ) di umumkan sebagai “ Kota Terbuka “ yang berarti bahwa kota itu tidak akan di pertahankan oleh Belanda, maka dengan mudah Jepang menguasai Batavia dan selanjutnya Jepang bergerak menuju ke selatan dan berhasil menduduki Bogor. Pada tanggal yang sama Jepang bergerak dari Kalijati untuk menyerbu Bandung dari arah utara, sehingga tentara Hindia Belanda mundur ke Lembang dan menjadikannya sebagai pertahanan terakhir. Tanggal 8 Maret 1942 Pemerintah Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati, Subang. Dengan demikian secara de facto dan de jure seluruh wilayah bekas Hindia Belanda sejak itu berada di bawah kekuasaan dan administrasi Jepang.

Sikap Awal Jepang terhadap Bangsa Indonesia

Pada awalnya Jepang bersikap baik terhadap bangsa Indonesia dengan mengaku sebagai saudara tua bangsa Indonesia. Jepang mendukung kemerdekaan Indonesia, padahal Jepang bersikap demikian hanya demi kepentingan pemerintahannya yang pada saat itu menghadapi perang melawan Amerika dan sekutunya.

Jepang mulai menciptakan propaganda-propaganda untuk menarik simpati bangsa Indonesia dan supaya mau membantu mereka. Propaganda yang terkenal antara lain : Gerakan 3A : 1) Jepang Pelindung Asia, 2) Jepang pemimpin Asia, 3) Jepang Cahaya Asia. Namun gerakan ini kurang mendapat simpati dari masyarakat, maka sebagai gantinya Jepang menawarkan kerjasama yang menarik yaitu membebaskan pemimpin-pemimpin Indonesia yang di tahan oleh Belanda seperti, Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta, Sultan Syahrir, dll. Selain itu Jepang membentuk organisasi-organisasi antara lain : PUTERA ( Pusat Tenaga Rakyat ) yang dipimpin oleh empat serangkai yaitu Ir.Soekarno, Drs. Moch Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan KH. Mas Mansyur, Majelis Islam A`la Indonesia ( MIAI ) dan kemudian di ganti Majlis Syura Muslimin Indonesia ( Masyumi ) di bawah pimpinan KH. Hasyim Asy`ari.

8 September 1943 markas besar militer Jepang di Saigon perintah untuk membentuk “ Qiyugun” / Heiho ( angkatan bersenjata lokal ) di sepanjang Asia Tenggara. 3 Oktober 1943 Jepang membentuk Heiho di Sumatra dan Jawa. Pasukan di Jawa di sebut PETA ( Pembela Tanah Air ). Desember 1943 Jepang membentuk Barisan Hizbullah yang di pimpin oleh KH. Zainul Arifin yang mayoritas anggotanya adalah para santri. Sejak itu banyak pondok pesantren di samping digunakan untuk mengaji juga di gunakan untuk latihan militer yang di latih oleh Tentara Jepang. Tanggal 1 Maret 1945 Jepang membentuk BPUPKI : Badan Penyelidik Usaha – usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (Dokuritsu Junbii Cosakai ).

Adapun tujuannya : menarik simpati bangsa Indonesia supaya membantu Jepang pada peperangan melawan sekutu dengan jalan memberi janji kemerdekaan pada bangsa Indonesia. Anggota BPUPKI sebanyak 67 orang.
Tanggal 6 Agustus 1945 tepatnya jam 08.15 pagi, Kota Hiroshima di jatuhi bom atom oleh tentara sekutu, lebih dari 70.000 orang telah menjadi korban. Tanggal 7 Agustus 1945 BPUPKI diganti menjadi PPKI dengan tujuan untuk lebih menegaskan keinginan dan tujuan untuk mencapai kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 9 Agustus 1945 Bom Atom yang kedua di jatuhkan oleh tentara Amerika di Kota Nagasaki, dan lebih dari 75.000 penduduk Jepang menjadi korban.

Tanggal 12 Agustus 1945 Jepang mengundang Ir. Soekarno, Drs. Moch Hatta dan dr. Radjiman Wedyodiningrat ke Dalat ( Vietnam ) untuk memberi informasi bahwa  Jepang akan segera memberikan kemerdekaan kepada bangsa Indonesia dan Proklamasi Kemerdekaannya dapat di lakukan pada tanggal 24 Agustus 1945, pelaksanaannya akan dilakukan oleh PPKI. 14 Agustus 1945 Jepang menyerah kepada sekutu di atas Kapal USS Missouri. Saat itu tentara Jepang masih menguasai Indonesia dan Jepang berjanji akan mengembalikan Indonesia ke tangan sekutu. Setelah mendengar berita dari Radio BBC bahwa Jepang telah menyerah kepada Sekutu, maka golongan muda mendesak golongan tua untuk segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Namun tokoh golongan tua seperti Soekarno dan Moch Hatta tidak ingin terburu-buru, mereka tetap menginginkan proklamasi dilaksanakan sesuai mekanisme PPKI, alasannya kekuasaan Jepang di Indonesia belum di ambil alih, hal ini membuat mereka khawatir akan terjadi pertumpahan darah saat proklamasi.

Menanggapi sikap konservatif golongan tua, golongan muda merasa kecewa. Pada tanggal 15 Agustus pukul 22.30 malam, utusan golongan muda menghadap Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta, untuk menyampaikan tuntutan agar Bung Karno segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada esok hari, yaitu tanggal 16 Agustus 1945. Bung Karno pun menolak tuntutan itu, dan lebih menginginkan bertemu dan bermusyawarah terlebih dahulu dengan anggota PPKI lainnya. Di tengah Pro dan Kontra, golongan muda memutuskan untuk membawa Bung Karno dan Bung Hatta ke Rengasdengklok agar kedua tokoh ini segera mengumumkan proklamasi kemerdekaan Indonesia dengan secepatnya serta menjauhkan Bung Karno dan Bung Hatta dari pengaruh Jepang. Sementara itu, di Jakarta terjadi dialog antara golongan muda dan golongan tua dan di temui kata sepakat agar proklamasi kemerdekaan harus di lakukan di Jakarta dan di umumkan pada 17 Agustus 1945, kemudian golongan muda mengutus Yusuf Kunto dan Achmad Subardjo ke Rengasdengklok untuk menjemput kembali Bung Karno dan Bung Hatta. Dan sekitar 23.00 rombongan tiba di rumah kediaman Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur No. 56 Jakarta. Dan pada malam itu juga, sekitar pukul 02.00 Bung Karno memimpin rapat PPKI di rumah Laksamana Tadashi Maeda di jalan Imam Bonjol No. 1 Jakarta. Rapat itu terutama membahas tentang persiapan proklamasi kemerdekaan Indonesia termasuk perumusan teks proklamasi dan yang bertanda tangan, dan rapat selesai jam 04.00 WIB. Kemudian pagi harinya, hari Jum`at jam 10.00 , 17 Agustus 1945 / 17 Romadhon 1364 H di Pegangsaan Timur No. 6 Jakarta, Teks Proklamasi di kumandangkan oleh Bung Karno dan Bung Hatta atas nama bangsa Indonesia. Merdekalah Indonesia, semoga Allah SWT melindungi dan memberkahi Indonesia.