Ibadah di Hari Raya Idul Fitri


Umat Islam memiliki banyak hari raya, satu di antaranya adalah hari raya Idul Fitri. Dinamakan Idul Fitri karena ini merupakan siklus tahunan yang selalu datang dan pergi, berputar secara terus menerus, karena sifatnya yang demikian inilah maka ia di sebut “Id” yang secara lughoh artinya ulangan atau putaran.

          Di hari raya Idul Fitri umat Islam di tuntut untuk melakukan beberapa amal ibadah, baik yang bersifat wajib maupun yang sunnah, yang bersifat wajib yaitu berupa zakat Fitrah. Zakat Fitrah hukumnya wajib bagi orang Islam baik laki – laki maupun perempuan. Zakat Fitrah seperti sujud sahwi dalam Sholat, maksudnya, sujud sahwi dalam sholat untuk melengkapi kekurangan di dalam sholat apabila ada sunah ab`adh yang tertinggal, sedangkan zakat fitrah untuk melengkapi kekurangan di dalam puasa. Dalam hadits yang di riwayatkan oleh Abu Daud dan Ibnu Majah, Nabi bersabda :” Zakat fitrah itu mensucikan orang yang berpuasa dari perbuatan yang tidak berguna dan dari ucapan kotor”. Dan di dalam Hadits lain yang di riwayatkan oleh Jarir RA, Nabi bersabda :”Puasa di bulan Romadhon di gantungkan antara langit dan bumi, dan tidak akan di terima ( dengan sempurna oleh Allah ) kecuali dengan zakat fitrah”.

Syarat Zakat Fitrah

Syarat zakat fitrah ada tiga, yaitu :

1) Orang Islam

2) Menemui dua waktu yaitu antara bulan Romadhon dan permulaan bulan Syawal.
seandainya ada bayi yang lahir sesaat sebelum maghrib di akhir bulan Romadhon dan di permulaan bulan Syawal, maka bayi tersebut wajib di zakati seperti orang dewasa yaitu 1 sho` / 2,4 kg, kemudian dibulatkan menjadi 2,5 kg.

3) Mempunyai kelebihan harta pada malam hari raya dan siang harinya untuk kebutuhan dirinya dan orang – orang yang menjadi tanggungannya seperti anak, istri, orang tua dan lainnya.

Waktu mengeluarkan zakat firah yaitu mulai awal Romadhon sampai akan di laksanakannya sholat Id, mengakhirkan zakat setelah sholat Id hukumnya makruh dan mengakhirkannya setelah hari raya Idul Fitri hukumnya haram, kecuali ada udzur, seperti yang akan di beri ( mustakhiq ) sedang berpergian.

Amal amal sunah di hari raya Idul Fitri

Banyak amal sunah yang di anjurkan untuk di lakukan di hari raya Idul Fitri, antara lain yaitu :

a) Ihya`ul lail ( menghidupkan malam hari raya ) dengan memperbanyak Ibadah seperti sholat sunnah, membaca Al Qur`an, dzikir dan ibadah – ibadah lainnya.

b) Memperbanyak membaca takbir

QS Al Baqoroh ayat 185 :” Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur”.

Membaca takbir di hari raya Idul Fitri di mulai dari terbenamnya matahari ( waktu maghrib tanggal 1 syawal ) sampai sholat Id akan di lakukan. Takbir bisa di lakukan di Masjid, di Mushola, di rumah, di jalan, di pasar atau di tempat – tempat lain dengan tujuan syi`ar agama ( syi`aruddin ).

c) Mandi ( Ghuslun )

Orang yang akan melaksanakan sholat Id di sunnahkan untuk mandi terlebih dahulu, dan waktu mandi bisa di mulai dari pertengahan malam ( nisful lail ), namun yang lebih afdhal ( lebih utama ) adalah setelah subuh menjelang keberangkatan sholat Id. Kaifiah ( cara ) mandi persis seperti mandi untuk menghilangkan hadats besar, yang beda hanya di niatnya.

d) Berhias ( Tazayyun )

Orang yang akan menunaikan sholat Id atau yang berada di rumah, orang tua, muda atau anak kecil semua di sunnahkan untuk  memakai pakaian yang paling bagus sebagai wujud rasa syukur atas nikmat yang Allah berikan kepadanya, berbeda dengan sholat Jum`at di sunnahkan untuk memakai pakaian yang berwarna putih karena littawadhu` ( memperlihatkan sifat rendah hati / andap ashor ).

e) Makan dan minum

Sebelum berangkat sholat Idul Fitri di sunnahkan makan dan minum terlebih dahulu karena untuk membedakan bahwa hari itu sudah tidak wajib berpuasa, bahkan di haramkannya untuk berpuasa.

f) Sholat Idul Fitri

          Sholat Id hukumnya sunnah mu`akkadah. Sholat Id bisa di lakukan secara munfarid ( sendiri ) dan di utamakan berjama`ah baik di masjid maupun di tempat lain. Bila sholat id di lakukan secara berjama`ah maka setelah sholat di sunnahkan untuk berkhotbah dan bila di lakukan dengan munfarid maka tidak di sunnahkan untuk berkhotbah.

          Jumlah roka`at dalam sholat Id sebanyak dua roka`at. Rokaat pertama di sunnahkan membaca takbir tujuh kali selain takbirotul ikhrom setelah membaca do`a iftitah dan sebelum membaca fatikhah dan di rokaat yang ke dua juga di sunnahkan membaca takbir sebanyak lima kali setelah takbir qiyam / intiqol, dan di sela – sela takbir di sunahkan membaca : “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha ilallah wallahu akbar”, dengan bacaan sir bukan di bathin ( di hati ). Perbedaan antara bacaan sir dengan di bathin yaitu bacaan sir hanya bisa di dengar oleh diri sendiri dan tandanya bibir tetap bergerak, sedangkan di bathin ( di hati ) dirinya tidak mendengar dan bibir tidak bergerak. Apabila lupa membaca takbir di rokaat pertama yang berjumlah tujuh kali ataupun rokaat yang kedua yang berjumlah lima kali dan sudah terlanjut membaca Al Fatikhah, maka tidak di perbolehkan untuk kembali membaca takbir dan ma`mumpun tidak perlu untuk mengingatkan serta tidak perlu di tambal dengan sujud sahwi. Waktu sholat Id mulai dari terbitnya matahari sampai tergelincirnya matahari ( waktu sholat dhuhur ), dan apabila di waktu yang telah di tentukan ada udzur seperti lupa atau tertidur untuk sholat Id, mak shilat Id bisa di lakukan secara qodho` di luar waktu yang telah di tentukan.

          Penjelasan ini di ambil dari beberapa kitab fiqh antara lain Riyadhul Badi`ah, Minhajul Qowwim, Fatkhul Mu`in, Fatkhul Wahab, Majmu` dan lain – lain.

artikel ini telah terbit dalam Tribun Jateng tanggal 22 Mei 2020