Jl. Raya Cangkiran-Gunungpati, Kota Semarang 50216 +62 856-0150-5818

Bermegah–megahan di Dunia hingga Maut Menjemput | Tafsir Surat At Takatsur

Oleh: KH. Masruchan Bisri
Pengasuh Ponpes Roudlotul Muttaqin (Salaf) Polaman Mijen Semarang

Tafsir Surah At – Takaatsur ayat 1- 8

Surah ini termasuk ke dalam kelompok Surah Makiyyah, terdiri atas delapan ayat, dua puluh delapan kalimah dan seratus dua puluh huruf. Dinamakan Surah At-Takaatsur karena firman Allah SWT ( أَلْهَاكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ ). Dalam surah ini diterangkan sebab seseorang masuk neraka, yaitu sibuk dengan urusan dunia sehingga melupakan akhirat dan malas beribadah. Surah ini juga mengancam pertanggung jawaban yang akan di tuntut di akhirat, mengenai segala perbuatan yang di lakukan dan semua kenikmatan yang telah di berikan selama di dunia.

Sebab turunnya ayat

Diriwayatkan bahwa Bani `Abdul Manaf dan Bani Sahm saling membanggakan diri padahal mereka telah masuk Islam. Masing – masing dari kedua golongan mengatakan terhadap rekannya dari golongan lain, “ Kami lebih banyak penghulu ( sayyid ) daripada kamu dan orang – orang kami lebih kuat, lebih mulya dan lebih banyak jumlahnya”. Kemudian Bani Sahm, mengatakan,:”Sesungguhnya kedzoliman telah memusnahkan kami pada masa jahiliyyah, oleh karena itu, hitunglah orang – orang hidup kami dengan orang – orang hidup kamu, juga orang – orang mati kami dengan orang – orang mati kamu”, kemudian mereka menghitungnya. Namun, Bani Sahm melebihkan jumlah mereka sehingga jumlahnya semakin bertambah banyak. Kemudian turunlah surat ini.

1). Al-hākumut-takāṡur

“Bermegah – megahan telah melalaikan kamu “

 Kata اَلْهى adalah fi`il madhi ruba`i transitif dengan makna شَغَلَ ( menyibukkan ) atau makna اَنْسَى ( melupakan ) dan makna ٱلتَّكَاثُرُ adalah bermegah – megahan.

Makna ayat : telah menyibukkan dan melalaikan kamu berlomba – lomba mencari ketenaran, kekuasaan, banyak harta, banyak pengikut, banyak keturunan dan bangga diri dengannya sehingga kamu lalai memikirkan perihal akhirat dan membuat persiapan untuknya sebelum ajal merenggut nyawa. Termasuk bermegah – megahan dengan harta ialah : mengumpulkannya  dengan cara yang bukan haknya dan menasarufkannya di jalan yang tidak benar. Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah hadist dari Ibnu Abbas :” Nabi Muhammad SAW membaca Alhaakumut takaatsur, lalu beliau bersabda :” bermegah – megahan dalam harta adalah mengumpulkannya dengan cara yang bukan haknya, merintangi haknya, dan mengikatnya dalam bejana ( bakhil ) “. Dalam kasus ini Nabi Muhammad SAW melalui beberapa sabdanya memperingatkan kepada umatnya agar kegermelapan kehidupan dunia tidak melalaikan perihal akhirat dan ibadah kepada Allah SWT.

Muttarrafi Ibnu `Abdullah Ibnu Syikhir telah meriwayatkan dari ayahnya Nabi Muhammad SAW pernah membaca Surah Alhaakumut Takaatsur atau Surah Takatsur ini, kemudian beliau bersabda :

 اِبْنُ اَدَم يَقُوْلُ; مَالِى وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكٍ اِلاَّ مَا اَكَلْتَ فَأَ فْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ اَوْ تَصَدَّ قْتَ فَأَمْضَيْتَ

Anak Adam mengatakan :” Ini hartaku, padahal kamu tidak memiliki harta kecuali apa yang telah engkau makan lalu engkau habiskan, atau yang engkau pakai lalu engkau menjadikannya barang bekas, atau yang engkau sedekahkan lalu engkau lanjutkan ( kekalkan pahalanya )”. ( HR. Muslim ).

Dalam hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori :

لَوْ اَنَّ لْاِبْنِ اَدَم وَادِياً مِنْ ذَهَبٍ ,لَأَحَبَّ اَنْ يَكُوْنَ لَهُ مِنْ وَادِيَانِ, وَلَنْ يَمْلَأَ فَاهُ اِلَّاالتُرَاب وَيَتُوْبُ اللهُ عَلَى مَنْ تَابََ 

“Jikalau anak adam memiliki satu lembah dari emas, maka ia menginginkan agar ia memiliki dua lembah dari emas, dan sekali – kali mulutnya tidak akan puas kecuali setelah di isi tanah ( alias mati ), dan Allah SWT menerima taubat orang yang bertaubat”. Dalam hadits lain yang diriwayatkan Bukhori, Muslim, Tirmidzi dan Nasa`i :

 يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ,فَيَرْجِعُ اِثْنَانِ, وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِد : يَتْبَعُ اَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ, فَيَرْجِعُ اَهْلُهُ وَمَالُهُ,وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“ Mayit akan di ikuti tiga hal, dua hal akan kembali dan satu hal akan tetap bersamanya. Dia akan di ikuti oleh keluarga, harta dan amalnya. Keluarga dan hartanya akan kembali, dan amalnya akan tetap bersamanya”.

2). Hattā zurtumul-maqābir

“Sampai kamu masuk ke dalam kubur”

Kata الْمَقَابِر adalah jamak dari isim mufrod مَقْبَرَة atau مَقْبُرَة  (بفتح الباء وضَمِّها , artinya perkuburan. Dalam Al Qur`an tidak ada penyebutan tentang kubur kecuali dalam surah ini. Allah SWT menghinakan orang – orang yang disibukkan dengan berbangga – bangga dengan banyaknya harta, banyaknya pengikut, besarnya kekuasaan, tingginya jabatan, besarnya pengaruh, ketenaran dll, sehingga berpaling dari ketaatan kepada Allah, sampai mereka mati dan dikuburkan dalam keadaan demikian dan belum bertobat.

Kematian di kinayahkan ( kiasan ) dengan ziarah kubur, ya`ni hingga kalian mati. Dikatakan demikian, karena orang – orang yang telah berada di alam kubur, mereka bagaikan orang – orang yang sedang berkunjung di suatu tempat ( زُوَّار ) yang pada saatnya mereka akan berpindah dan kembali ke tempat yang sesungguhnya yaitu akhirat, dimana mereka akan kekal di sana, di surga bagi orang – orang yang beriman dan beramal sholeh dan di neraka bagi orang – orang yang selalu membangkang dan meninggal dalam keadaan tidak beriman.

Ziarah kubur adalah suatu amalan yang  disyariatkan di dalam Islam karena ia termasuk salah satu obat yang paling mujarab bagi hati yang keras, ia mengingatkan kematian dan akhirat, selain itu ia dapat membatasi angan – angan, membuat zuhud pada dunia dan meninggalkan kecintaan kepada dunia secara berlebihan. Nabi Muhammad SAW bersabda :

 كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عن زيارةِ القبُور فَزُوْرُوْا القُبُورَ فإنّها تُزَهِّدُ في الدّنيَا وتُذَكِّرُالأخرة, 

“ Aku pernah melarang kalian ziarah kubur, sekarang berziarah kuburlah kalian, karena ia membuat zuhud kepada dunia dan mengingatkan akhirat” ( HR. Ibnu Majah dari Ibnu Mas`ud ). 

Hakim dalam shohihnya meriwayatkan dari Anas RA bahwasanya Rosulullah SAW bersabda :

 كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُوْر فَزُوْرُوْهَا فَإِنَّهَا تُرِقُ الْقَلْبَ وتُدْمِعُ العَيْنَ وَتُذَكِّرُالْأخِرَةَ وَلاَتَقُوْلُوْاهُجْرًا 

“ Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Ketahuilah maka sekarang berziarahlah kalian ke kubur. Karena ziarah kubur dapat melembutkan hati dan membuat mata menangis serta mengingatkan ke akhirat, dan  janganlah kalian berkata yang jelek “.

Menurut Al Qurthubi, ziarah kubur bagi laki – laki telah di sepakati oleh para ulama`, dan  bagi perempuan terdapat perbedaan pendapat. Diriwayatkan dari Abi Hurairah RA bahwasanya Rosulullah SAW pernah melaknat wanita – wanita yang berziarah kubur.

Sebagian Ulama` berpendapat bahwa hadits ini diriwayatkan sebelum Nabi Muhammad SAW memberikan rukhsoh / keringanan dalam ziarah kubur, maka Ketika Nabi Muhammad SAW memberi rukhsoh, baik laki – laki ataupun perempuan masuk kedalam rukhsoh ini.

وَعَلَى هَذَا الْمَعْنَى يَكُوْنُ قَوْلُهُ :” زُوْرُوْاالقُبُوْر” عَامًا 

“Atas makna atau pengertian ini, maka sabda Nabi “ berziarah kuburlah kalian “, maka ini menjadi umum bagi seluruh laki – laki ataupun wanita. Adapun tempat dan waktu yang di khawatirkan terjadinya fitnah dari bercampurnya laki – laki dan wanita, maka hal ini tidaklah halal dan tidak pula diperbolehkan.

Oleh karena itu kami menghimbau para panitia untuk selalu mengingatkan jama`ahnya agar berniat baik dan menjalankan adab tata susila berziarah. Dan hendaknya pula para pengelola makam menyediakan tempat terpisah antara laki – laki dan perempuan untuk menghindari timbulnya fitnah.

3). Kallā saufa ta’lamụn

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui ( akibat perbuatanmu itu )”

Ayat ini mengandung makna pencegahan dan kecaman atas perbuatan memperbanyak harta, keturunan, dll dan berbangga – bangga diri dengannya, serta peringatan bahwa mereka akan mengetahui akibat dari perbuatan mereka itu pada hari kiamat nanti, dan disini juga terkandung ancaman yang keras (وَعِيْدٌ شَدِيْد).

Zirr bin Hubaisy meriwayatkan dari Ali RA, ia berkata, “ Kami pernah bimbang akan azab kubur, hingga surah ini turun, lalu ia menunjukkan bahwa firman Allah SWT :

 كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ

 “ Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, “yakni di dalam kubur “.

Al Qurtubi berkata : surah ini juga mengandung perkataan tentang azab kubur, dan beriman kepadanya hukumnya wajib, mempercayainya adalah suatu keniscayaan, sesuai dengan apa yang telah di kabarkan oleh Rosul yang terpercaya, bahwa Allah SWT menghidupkan seorang hamba yang mukallaf di dalam kuburnya dan menjadikan akalnya sama seperti ketika ia masih hidup dahulu ( di dunia ), agar ia dapat memikirkan apa yang ditanyakan kepadanya, dan apa yang harus di jawab, dan memahami apa yang datang dari Tuhan-Nya, serta apa yang di sediakan di dalam kuburnya.

4). Tsumma kallā saufa ta’lamụn

“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui “

Huruf ثُمَّ berfungsi untuk menunjukkan bahwa yang kedua lebih “keras” dari yang pertama. Pendapat lain mengatakan : bahwa yang pertama adalah ketika mati atau di dalam kubur ( mengetahui akibat perbuatan ) dan yang kedua adalah pada hari kiamat. Al Farra` berkata :” Pengulangan ini untuk penegasan dan penguatan “. Mujahid dan Al Hasan berkata :” ini adalah ancaman di atas ancaman ( ancaman yang sangat berat ) “.

5). Kallā lau ta’lamụna ‘ilmal-yaqīn

“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yaqin “

Ada beberapa pendapat tentang lafadz كَلَّا antara lain : كَلَّا pada posisi ketiga ini untuk teguran dan kecaman seperti yang pertama dan kedua. Menurut Al Farra : كَلَّا bermakna حَقًّا ( sebenar – benarnya / sungguh ), dan pendapat lain mengatakan bahwa كَلَّا pada ketiga tempat itu bermakna : ألَا الْاِ سْتِفتَا حِيَّة ( ingatlah / ketahuilah ). Jawab لَوْ ( jika ) dibuang, attaqdir : لَوْعَلِمْتُمْ لَمَّا أَلْهَاكُمُ ٱلتَّكَاثُر “ Jika kalian mengetahuinya, niscaya kalian tidak akan dilalaikan “

عِلْمَ الْيَقِيْن artinya pengetahuan yang yaqin. Al maqsud مَاهَكَذَايَنْبَغِى أَنْ تَفْعَلُوْن الخ tidak begini yang seharusnya kalian lakukan wahai manusia, di lalaikan oleh banyaknya harta, pengikut, kemasyhuran dll. Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yaqin bahwa Allah akan membangkitkan kalian pada hari kiamat dari kubur kalian, niscaya banyaknya harta, anak, tingginya derajat dll tidak akan melalaikan kalian dari ketaatan terhadap Allah SWT, dan tentunya kalian akan segera beribadah kepada-Nya dengan sungguh – sungguh serta melaksanakan perintah – perintah-Nya dan menjauhi larangan – larangan-Nya.

6). Latarawunnal-jaḥīm

“Niscaya kamu benar – benar akan melihat Neraka Jahim “

Kalimah ini menjadi jawab dari qosam yang di buang. Attaqdir وَاللّهِ لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْم.

Kata ٱلْجَحِيْمَ ya`ni دَارُ الْعَذَاب ( tempat siksa )

Makna ayat : Demi Allah, sungguh kamu akan melihat neraka jahim. Menurut suatu pendapat bahwa khitob ayat ini ( pembicaraan ) bersifat umum. Sebagaimana firman Allah SWT إِنْ مِنْكُمْ إِلَّا وَارِدُهَا وَ ( Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu ( QS. Maryam : 71 ). Neraka dipersiapkan untuk orang – orang kafir dan tempat lewat ( berlalu ) bagi orang – orang mu`min. Dalam hadits shohih disebutkan

فَيَمُرُّاَحَدُهُمْ كَالْبَرْقِ, ثُمَّ كَالرّيْحِ ثُمَّ كَالطَّيْرِ

“Maka orang yang pertama dari mereka berlalu bagaikan kilat, kemudian bagaikan angin kemudian bagaikan burung”.

7). Tsumma latarawunnahā ‘ainal-yaqīn

“ Kemudian kamu benar – benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin “

عَيْنُ الْيَقِيْن ya`ni مُشَاهَدَه ( melihat dengan mata kepala sendiri ). Al ma`na : Kemudian sesungguhnya kamu akan melihat neraka Jahim itu dengan mata kepalamu sendiri.

8). Tsumma latus`alunna yauma`iżin ‘anin-na’īm

“ Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan”.

Menurut Sebagian Ulama ahli tafsir bahwa khitob disini bersifat umum ( orang kafir dan orang mu`min ) . ال yang ada pada lafal ٱلنَّعِيمِ adalah Al istighroqil jinsi ( استغراق الجنس ), mencakup seluruh jenis. Pertanyaan kepada orang kafir bertujuan untuk menghinakan ( تَوْبِيْخْ ), karena ia kufur dan bermaksiat. Sedangkan pertanyaan kepada orang mu`min bertujuan untuk memuliakan ( تَشْرِيْف ) karena ia bersyukur dan taat. Para ulama menafsiri khitob yang ada pada ayat ini bersifat umum, karena berdasarkan beberapa hadits, di antaranya : Diriwayatkan dari Umar bahwasanya dia berkata :” kenikmatan apa yang akan ditanyakan kepada kita Wahai Rosululullah SAW, Kita telah mengeluarkan dinar dan harta kita ?. Lantas Rosulullah SAW menjawab, “ Teduhan tempat tinggal, pepohonan dan tenda yang menjaga kalian dari panas dan dingin serta air dingin di hari yang panas “. Hadits yang diriwayatkan oleh Tirmidzi dari Abu Barzah, beliau bersabda :

 لاَتَزُوْلُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ, وَعَن شَبَابِهِ فِيْمَاأَبْلَاهُ, وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ, وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ, وَعَنْ عِلْمِهِ مَاذَا عَمِلَ بِهِ

 ( رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ )

“ Tidaklah tergelincir kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga di tanya mengenai empat hal, mengenai umurnya di habiskan dalam hal apa, mengenai masa mudanya di gunakan untuk apa, hartanya darimana di dapat dan kemana dibelanjakan, serta mengenai apa yang dilakukan dengan ilmunya”.

Tambahan dari penulis

Harta, kekuasaan, keturunan, ketenaran, pengikut adalah pemberian Allah SWT yang masih bersifat netral, artinya bahwa hal tersebut bisa menghantarkan keselamatan dan kemuliyaan di akhirat kelak dan sebaliknya bisa membawa kehinaan dan kehancuran serta siksaan yang berat, demikian ini tergantung bagaimana seseorang menyikapi dan mempergunakannya. Harta yang di tasarufkan dijalan yang benar, kekuasaan yang dipergunakan untuk berbuat yang bermanfaat untuk umat dan masyarakat, ketenaran yang dijadikan wasilah untuk menyampaikan kebenaran, nasab tinggi tetap lembut dan rendah hati, pengikut banyak yang diajak untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa, semua ini jika dilakukan dengan penuh keikhlasan maka ini termasuk amal baik yang dicintai oleh Allah SWT. Kita semua pasti mengerti, bahwa untuk menjadi orang yang dicintai oleh Allah SWT tidaklah mudah, oleh karena itu marilah kita terus belajar dan mengaji dengan para guru dan para kiai yang memiliki kompetensi khususnya dalam ilmu keagamaan, atau dengan ungkapan lain seyokyanya kita berguru atau menimba ilmu dari para Ulama` yang memiliki sanad sampai kanjeng Nabi.

Perlu kita ketahui, di tinjau dari segi pengamalan dan akhlaq, Ulama` terbagi menjadi dua yaitu Ulama sholih ( عُلَمَاءُ الْآخِرَة ) dan Ulama` jelek (عُلَمَاءُ السُّوْء ). Diantara tanda – tanda Ulama` sholih yaitu : pendiam, perenung, penyantun, penyayang, penderma, penyabar, pemaaf, penolong, cerdas dan berkemauan keras, peka terhadap permasalahatan umat, tidak suka menonjolkan diri (خَمُوْل ), tenang / kalem ( وَقُوْر ), lembut / tipis hatinya ( رق القلب ), selalu menghindari perbedaan dan pertentangan,  berpenglihatan jauh dan tajam namun sejuk, tidak menatap mata orang lain, bermuka manis dan teduh.

Dan diantara tanda – tanda Ulama` su` / jelek yaitu : pemarah, pendengki, senang menonjolkan diri, takabbur, bakhil, banyak bicara, kasar, keras hati, senang memperlihatkan amal kebaikan, senang tampil di depan, selalu bermuka bengis dan muram. Dan perlu kita ketahui pula, bahwa ada sekelompok orang yang mirip dengan ulama` namun bukan ulama`, kelompok ini dalam kitab Ihya` Ulumuddin disebut Al Mutarosimun ( المترسمون ), yaitu : orang – orang yang sejatinya bukan ulama` karena tidak memenuhi kriteria ulama`, namun mereka meniru, berperilaku, berpakaian layaknya ulama`, dalam bahasa jawa dinamakan ngrembo – ngrembo. Bagi orang awam seperti saya sangat sulit membedakan diantara keduanya, seperti sulitnya membedakan antara emas murni dan logam biasa yang dicat seperti warna emas yang diletakkan sejajar ditempat yang sama. Dan kelompok yang terakhir ini sudah bermunculan dan di prediksi akan terus bermunculan. Jika prediksi ini benar terbukti, tentu ini akan menambah beban pikiran bagi semua pihak, terutama bagi pihak tertentu yang sangat serius bekerja untuk memenuhi kebutuhan jasmani, dan sungguh – sungguh memperhatikan pendidikan dan akhlaq masyarakat terlebih kaum millenial yang merupakan generasi penerus bangsa agar mereka berjiwa patriotis, nasionalis, berwawasan luas dan berakhlaq mulia serta mengenal Al Kholiq yang telah menciptakannya, mencukupinya, yang akan menuntut pertanggung jawaban dan yang akan mengadili serta membalasnya kelak besok di akhirat. Sebagai penutup, marilah kita renungkan dua hadits di bawah ini :

 إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِرَجُلٍ فَاجِر

“Sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini ( Islam ) dengan orang yang fajir ( melempeng )”

إِنَّ اللَّهَ لَيُؤَيِّدُ هَذَا الدِّينَ بِقَوْمٍ لَاخَلَاقَ لَهُمْ

“ Sesungguhnya Allah akan menguatkan agama ini ( Islam ) dengan kaum yang tiada bagian bagi mereka ( pahala di akherat akan hangus ) “

Penjelasan ini di ambil dari beberapa kitab tafsir, antara lain Tafsir Thobari, Tafsir Qurtubhi, Tafsir Maroghi, Tafsir Baidhowi, Tafsir Showi, Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Munir, Tafsir Al Ma`tsur, Tafsir Futukhul ilahiyyah, Tafsir Fatkhul Qodir, Tafsir Rukhul Ma`ani dam Tafsir Al Khozin.

Leave a Reply