Akhlaq | Mukhasabah wat Tarbiyah dalam Rangka Menyongsong Tahun Baru 2020


TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG – Dalam rangka menyongsong tahun baru 2020 M, pengasuh Ponpes Askhabul Kahfi KH. Masruchan Bisri mengajak seluruh santri dan umat Islam pada umumnya untuk meningkatkan keimanan, ketaqwaan serta budi pekerti yang mulia sesuai dengan amanat UUD 1945 pasal 31 ayat 3 dengan cara meneladani akhlaq atau budi pekerti kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Akhlaq secara lughoh artinya sikap, dan secara definisi :

اَلْخُلُقْ عِبَارَةٌ عَنْ هَيْئَةٍ فِى النَّفْسِ رَاسِخَةٍ عَنْهَا تَصْدُرُ الْاَفْعَالُ بِسُهُوْلَةٍ وَيُسْرٍ مِنْ غَيْرِ حَاجَةٍ اِلى فِكْرٍ وَرَوِيَّةٍ

Akhlaq : “Sikap yang melekat ( menancap ) di dalam jiwa seseorang yang bisa menimbulkan perbuatan – perbuatan secara mudah  / gampang ( spontanitas ) tanpa membutuhkan pemikiran dan angan – angan ( rekayasa ) terlebih dahulu ” ( Ihya` Ulumuddin Juz 3 Halaman 35 )

Akhlaq terbagi menjadi dua bagian, pertama     حُسْنُ الْخُلٌقْ / اَخْلَاقُ الْكَريْمَة ( akhlaq mulia ) dan yang kedua  اَخْلَاقُ الْذَميْمَة / سُؤُالْخُلٌقْ ( akhlaq tercela ). Banyak sekali madhorot atau bahaya yang akan menimpa terhadap seseorang yang memiliki akhlaq jelek, dan bahaya yang paling fatal serta menakutkan adalah hangusnya pahala dan balasan amal – amal kebaikan yang telah di lakukan serta kehancuran dahsyat karena termasuk golongan ahli neraka.

Nabi Muhammad  SAW bersabda : سُؤُالْخُلُقْ يُفْسِدُ الْعَمَلَ كَمَا يُفْسِدُالْخَلُّ الْعَسَلَ ,” Akhlaq jelek akan merusak amal ( kebaikan ) seperti cokak merusak madu ” ( HR. Ibnu Hibban, Baihaqi dan Al hakim ).

Imam Al Qusyairi di dalam kitab Ittikhafussa`adatil muttaqin berkomentar : ” Seseorang yang melakukan kebaikan apabila di sertai dengan akhlaq buruk maka akan rusak amal kebaikannya itu dan akan hangus pahalanya, seperti orang yang bersedekah yang di ikuti dengan mengundat – undat dan menyakitkan hati”.

Dalam hadits lain : قيل لرسولِ الله صلى الله عليه وسلم : اَنَّ فُلَانَةَ تَصُوْمُ النَّهَا رَ وَتَقُوْمُ الَّيْلَ وَهِيَ سَيِّئَةُ اْلخُلُقِ تُؤْذِى جِيْرَانَهَا بِلِسَانِهَا. قَالَ : لَا خَيْرَ فِيْهَا هِيَ مِنْ اَهْلِ النَّارِ , di ucapkan kepada Rosulullah SAW : “Sesungguhnya seorang wanita itu puasa pada siang hari dan sholat pada malam hari ( ahli ibadah ) namun dia berperangai jelek, sering menyakitkan hati tetangganya dengan ucapannya”.

Nabi bersabda : ” Tidak ada kebaikan baginya, dan dia termasuk golongan ahli neraka “. ( HR. Ahmad dan Al Hakim ).

Dari sini jelas, orang yang melakukan amal kebaikan berupa apapun seperti sholat, puasa, haji, jihad, da`wah, sedekah dll, apabila tidak di barengi dengan akhlaq mulia, maka akan sia -sia dan tidak berpahala, oleh karenanya hendaknya kita jangan terlalu bangga diri, karena kita telah aktif menjalankan sholat, setiap tahun puasa romadhon sebulan penuh, haji berkali – kali, jihad yang sering meninggalkan anak dan istri serta mengorbankan banyak materi, da`wah kesana kemari dengan penuh semangat dan berapi -api dan lain – lain, semua ini akan tidak berarti manakala tidak diiringi dengan budi pekerti yang terpuji, yang telah di contohkan oleh Nabi Muhammad SAW.

Namun demikian kita tidak boleh meremehkan amal – amal kebaikan ( ibadah ) dan hanya mengutamakan / mementingkan keakhlakan, tetapi kita harus memadukan keduanya yaitu melakukan amal – amal kebaikan sebanyak- banyaknya dan menghiasi diri dengan akhlaq yang mulia. 

Bentuk – bentuk akhlaq buruk

Bentuk akhlaq buruk yang bisa merusak amal kebaikan dan menghapuskan pahala banyak sekali,  antara lain : kasar, keras hatinya, sombong, hasud.

Nabi bersabda ” Tahukah kalian orang – orang yang termasuk golongan ahli neraka ? قَالَ : كُلُّ جَبَّارٍ عَنِيْدٍ مُتَكَبِّرٍ, Nabi bersabda : ” Setiap orang yang kasar, keras hatinya dan sombong”. Nabi bersabda dalam hadits yang lain : اِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَاِنَّ الْحَسَدَ يَاءْ كُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَاءْ كُلُ النّاَرُ الْحَطَبَ , ” Hindarilah kalian akan sifat hasud karena sesungguhnya sifat hasud itu akan menghapuskan amal kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar “.

Khubburriyasah dan Khubbuddunya ( ambisi kekuasaan serta ingin selalu tampil di depan, dan cinta dunia secara berlebihan). حُبُّ الدُّنْيَا رَءْسُ كُلِّ خَطِيْئَةٍ ,”cinta dunia ( berlebihan ) adalah pangkal segala kesalahan ( dosa )”.

Mencari kekuasaan dan kedudukan diperbolehkan, bukan larangan dengan syarat berniat yang baik, seperti menjadikannya sebagai sarana untuk memberi kemaslahatan dan kemanfaatan kepada umat, dan bukan sekedar untuk mencari kehormatan dan kekayaan, begitu pula diperbolehkan mencari harta dunia dengan niyat menjadikan harta sebagai wasilah atau lantaran untuk mencari ridho Allah SWT, seperti: untuk beribadah, menafkahi keluarga, membiayai pendidikan, perjuangan, menolong orang yang membutuhkan, dsb.

Kebalikan akhlaq tercela adalah akhlaqul karimah ( akhlaq mulya ).

Semua orang tahu bahwa visi utama Nabi Muhammad SAW di utus di dunia ini adalah untuk menyempurnakan akhlaq.

Sebagaimana pengakuan beliau sendiri dalam sebuah haditsnya :” Sesungguhnya Aku di utus di dunia ( oleh Allah ) untuk menyempurnakan akhlaq”, maksudnya ialah agar umat manusia memiliki akhlaq mulia. Perintah Nabi dalam sebuah hadits : اِتَّقِ الّلهَ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ” Bertaqwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, dan iringilah perbuatan jelek dengan perbuatan baik, maka perbuatan baik akan menghapus perbuatan jelek ( dosa kejelekan ) dan berakhlaqlah kepada manusia dengan akhlaq yang baik “.(HR. Tirmidzi )

Dalam hadits ini ada tiga perintah penting yaitu , pertama : perintah bertaqwa kepada Allah (  menjalankan perintah – perintahnya dan menjauhi larangan – larangannya , kedua : apabila terlanjur melakukan perbuatan jelek, maka bersegeralah untuk mengiringi dengan amal  baik ( segera bertobat ), ketiga : berakhlaq baik kepada semua manusia, dalam redaksi hadits ini tidak di ucapkan ” وَخَالِقِ الْمُسْلِمِيْنَ ” tetapi ” وَخَالِقِ النَّاسَ “.

Demikian ini menunjukkan bahwa kita di tuntut untuk berakhlaq baik tidak hanya kepada orang – orang muslim saja, melainkan semua manusia baik muslim maupun non muslim.

Nabi Muhammad pernah di tanya oleh salah seorang shohabatnya tentang akhlaq baik, Nabi lantas membaca suatu ayat : Khudzil ‘afwa wa’mur bil ‘urfi wa a’ridh ‘anil jaahiliin, “Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma`ruf dan berpalinglah daripada orang – orang yang bodoh “. ( Q.S Al A`raf ayat 199 ).

Kemudian Rosulullah SAW bersabda : هُوَ اَنْ تَصِلَ مَنْ قَطَعَكَ وَتُعْطِيَ مَنْ حَرَمَكَ وَتَعْفُوَ عَمَّنْ ظَلَمَكَ,”Akhlaq baik adalah engkau menyambung tali persaudaraan kepada orang yang memutuskan tali persaudaraan kepadamu dan memberi ( bersedekah) kepada orang yang menghalang – halangimu dan memaafkan orang yang telah mendholimimu”.

Pada ayat dan hadits tersebut terdapat enam tanda – tanda akhlaq mulia.

Pertama : Pemaaf, kedua : Amar ma`ruf, ya`ni : mengajak / da`wah untuk melakukan kebenaran dan kebaikan dengan bijak ( metode yang baik ), yang santun, tidak menjelek – jelekkan orang, golongan, lembaga, negara, dsb. Da`wah bisa di lakukan dengan berbagai macam cara, dan cara yang paling afdhol adalah melakukan tindakan nyata ( membuat contoh yang baik ).

Dalam sebuah maqolah di tuturkan : لِسَانُ الْحَال اَفْصَحُ مِنْ لِسَانِ الْمَقَالِ, ” tindakan nyata itu lebih mengena dari pada berbicara ( pidato ) “.

Kebanyakan orang kurang memiliki akhlaq mulia, mungkin salah satu penyebabnya ialah terlalu banyak tukang pidato namun minim sekali conto.

Pidato yang tidak terukur, ceplas – ceplos ngalor – ngidul tidak karuan, mungkin kurang bahan, tidak mengena dan tidak tepat sasaran, yang penting laku di pasaran, kadang – kadang membuat gegeran, yang juga menakjubkan adalah : corak seperti ini di gemari oleh banyak kalangan, entah mengapa demikian, rahasia apa yang di pegang, kok begitu menarik perhatian banyak orang.

Kita boleh heran namun jangan tinggal diam, kita harus ikut turun tangan, bertandang dan berjuang dalam rangka menyebarkan ajaran ahlisunnah wal jama`ah yang telah di ajarkan oleh Nabi akhirizzaman dan dalam rangka menegakkan Pancasila dan UUD 1945 sebagai Dasar Negara yang telah menjadi keputusan dan kesepakatan bersama oleh para pendiri bangsa di masa awal – awal kemerdekaan.

Yang ketiga : berpaling dari orang – orang yang bodoh. Maksudnya : berpaling dari perbuatan dan kelakuan orang – orang bodoh yang tidak menyadari bahwa dirinya orang yang bodoh.

Orang yang seperti ini biasanya perbuatannya jelek dan akhlaqnya tidak baik, seperti sombong, banyak ngomong, petikalan, suka menghina orang, sering menyebarkan kebohongan, dll.

Yang ke empat menyambung tali silaturrahim terhadap orang yang memutuskan tali persaudaraan.

Yang ke lima : memberi atau bersedekah kepada orang – orang yang menghalang – halangi. Dan yang ke enam : memaafkan orang yang mendholiminya.

Termasuk tanda – tanda akhlaq mulia ialah selalu bermuka manis (وَجْهٌ مَلِيْحٌ / طَلَاقَةُالْوَجْهِ), bermuka manis ( jawa : ajere peraupan ).

Wajah merupakan cermin dari hati / batin seseorang, apabila hati seseorang baik, maka wajah akan nampak baik dan apabila hati jelek maka wajah akan terlihat jelek. الظَّاهِرُمِرْأَةُالْبَاطِن, “dzohir adalah merupakan cermin dari bathin ( hati )”.

    Sifat lembut, rendah hati, pemurah, pemaaf, penyayang dan sifat – sifat mulia lain yang bersemayam di dalam hati seseorang, maka wajah orang tersebut secara otomatis akan selalu nampak teduh, tenang, berseri – seri dan bersinar mencorong serta pandangan matanya tajam, dimanapun, kapanpun dan bertemu kepada siapapun, seperti bertemu dengan anak – anak kecil, orang – orang kecil ( orang – orang rendah ), orang – orang yang menjadi bawahannya,  orang – orang yang mendengki dan memusuhinya, dsb. Wajah manis seperti ini tidak bisa di rekayasa, karena ini merupakan cermin dari hatinya. Demikian ini tidak semua orang mampu melakukannya dan wajah seperti ini merupakan alamat atau tanda ahli surga menurut keterangan dalam suatu hadits Nabi. Berbeda dengan bermuka manis karena bertemu dengan orang besar, orang kaya, orang yang sedang di butuhkan, orang yang menjadi atasannya, dsb, demikian ini mungkin karena ada sesuatu yang datang tiba – tiba (اَلْعَارِض ) seperti : sungkan, penyesuaian, kepentingan, menutupi kekurangan  dan seterusnya, yang demikian ini, semua orang bisa melakukannya dan seperti ini pula mudah di rekayasa, sangat berbeda dengan yang pertama ya`ni asli dan murni yang muncul secara spontan dari hati yang di dalamnya terdapat sifat – sifat mulia.

    Umat Islam di tuntut secara wajib agar supaya memiliki akhlaq mulia, untuk itu Allah SWT mengutus hamba pilihannya yaitu Nabi Muhammad SAW di dunia untuk menyempurnakan akhlaq dan beliau di jadikan sebagai panutan serta suri tauladan. Firman Allah yang artinya : “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. ( QS Al Ahzab ayat 21 )

    Dalam rangka menjalankan tugasnya Nabi Muhammad SAW di beri kesempurnaan dan keistimewaan yang luar biasa dan menakjubkan serta di jaga ( ma`shum ) dari perbuatan tercela dan hina ( seperti mencuri,malas, rembesen, ingusen, dll ) selama hidupnya, baik setelah di angkat menjadi Rasul maupun sebelumnya, banyak sekali contoh – contohnya seperti yang di jelaskan dalam kitab :       

                ( المنتظم في تواريخ الملوك والامم ( الجزء الثانى         

Antara lain :

Ketika masih di kandungan

    Ketika Siti Aminah binti Wahab mengandung Nabi, Dia berkata :” Aku tidak merasa bahwa aku mengandungnya, dan aku tidak menemukan kepayahan karenanya, seperti halnya wanita lain yang sedang hamil, kecuali haidku benar – benar telah terangkat ( berhenti ), dan ada yang mendatangiku dan aku di antara tidur dan terjaga, kemudian dia berkata :” Apakah kau merasa hamil ? kemudian aku menjawab :” aku tidak tahu “. Kemudian dia berkata : ” Sesungguhnya kau telah hamil seorang Sayyidil Ummah dan Nabi-nya. Peristiwa ini terjadi pada hari Senin, Aminah berkata :” dari sinilah saya yakin bahwa aku sedang hamil”, kemudian beberapa saat sebelum kelahiran, dia datang lagi dan berkata : قُوْلِى اَعِيْذُهُ بِالْوَاحِدِ الصَّمَدِ مِنْ شَرِّكُلِّ حَاسِدٍ .

Ketika akan lahir

    Pada malam kelahiran  Nabi ( sebelum menjelang fajar ), Aminah berkata :” Tidak ada sesuatu yang aku lihat di rumah kecuali nur ( cahaya ) dan sesungguhnya aku melihat bintang yang mendekatiku, sehingga aku berkata :”Sungguh bintang itu akan menimpaku”.

Ketika dilahirkan

    Aminah berkata :” Aku melahirkan Muhammad ( Nabi) dalam keadaan berlutut kedua dengkulnya sambil melihat ke atas dan tangannya menggenggam / menapak ke bumi layaknya orang yang sedang sujud, dan dia dilahirkan dalam keadaan terputus tali pusarnya. Kemudian aku menutupinya dengan wadah dan kemudian aku menemukan wadah tersebut telah terbelah karenanya dan dia menghisap ibu jarinya yang mengeluarkan air susu. Demikian ini merupakan sebagian bukti bahwa Allah memberi keistimewaan yang luar biasa dan menakjubkan kepada Nabi sejak kecil bahkan sebelum lahir, jadi kalau dikatakan bahwa Nabi pada waktu masih kecil biasa – biasa saja seperti pada umumnya anak – anak kecil lainnya se zamannya, ungkapan seperti ini adalah ungkapan sembrono dan kurang ke hati – hatian dalam menyampaikan penjelasan. Nabi Muhammad SAW memang manusia biasa, namun tidak seperti manusia pada umumnya, Nabi Muhammad SAW bagaikan yaqut di tengah – tengah batu – batuan. Seperti syair dari Syeikh Abul Mawahib As-Syadzili : بَلْ هُوَ گالْيَاقُوْتِ بَيْنَ الْحَجَرِ      *   مُحَمَّدٌ بَشَرُ لَا گالْبَشَرِ

    Dalam kitab : النُّوْرالْمُبِيْن فِى مَحَبَّةِ سَيِّدِالْمُرْسَلِيْن ,diterangkan bahwa Nabi ketika di susuhi oleh Tsuwaibah, Nabi menyusu pada tetek ( ثَدِيُ ) sebelah kanan dan dia tidak mau menyusu dengan tetek sebelah kiri. Menurut suatu riwayat bahwa tetek sebelah kiri adalah bagian milik anaknya Tsuwaibah, sehingga Nabi tidak mau menyusunya, demikian ini berarti Nabi tidak mau menggunakan haknya orang lain padahal Dia masih balita. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi dijaga oleh Allah dari perbuatan – perbuatan yang tercela selama hidupnya, seperti merampas hak orang lain, mencuri, zina, dsb.

Ketika Nabi di asuh oleh kakeknya Abdul Mutholib

    Setelah ibunya Aminah wafat, Nabi di asuh oleh kakeknya Abdul Mutholib. Abdul Mutholib mengasuh Nabi dengan sungguh – sungguh dan penuh perhatian, dia sangat lemah lembut kepada Nabi yang belum pernah dia lakukan terhadap anaknya sendiri, dia selalu mendekati dan menemani Nabi ketika Nabi sendiri, ketika Nabi tidur dia duduk di samping tempat tidurnya, dia tidak makan suatu makanan kecuali dia mengajak Nabi dan ketika dia akan wafat dia berwasiat kepada anaknya Abu Tholib ( paman Nabi ) agar menjaganya dengan hati – hati. ( Al Muntadhom juz II hal 58 )

    Penjelasan ini menunjukkan bahwa Nabi terurus dan terawat ketika di asuh oleh kakeknya Abdul Mutholib, jika ada orang mengatakan bahwa Nabi tidak terurus ketika di asuh oleh kakeknya, itu adalah kebohongan dan su`udzon kepada Nabi dan ahli baitnya yang mulia.

Ketika diasuh oleh pamannya Abu Tholib

    Setelah kakeknya wafat,  Nabi di asuh oleh pamannya Abu Tholib, di pangkuan Abu Tholib banyak kejadian – kejadian aneh yang menakjubkan, antara lain : pada umumnya anak – anak kecil pagi – pagi setelah bangun tidur, rembesen dan rambutnya acak – acakan ( amburadul ), sedangkan Nabi pagi -pagi sudah berminyakan dan bercelakan. وَكَانَ الصِّبْيَا نُ يُصْبِحُوْنَ رُمْصًا شُعْثًا وَيُصْبِحُ رَسُول الله صلى الله عليه وسلم دَهِيْنًا كَحِيْلاً ( المنتظم  ,جز :٢, ص: ٦٤), artinya ” pada umumnya anak – anak kecil ketika pagi – pagi bangun tidur keadaanya berembes ( rembesen ) dan rambutnya acak – acakan dan Rosulullah SAW sudah berminyakan dan celakan “. Dari sini jelas bahwa yang rembesen itu bukan Nabi tapi anak – anak pada umumnya pada waktu itu. Jika ada yang mengatakan bahwa Nabi rembesen, ini adalah ihanah ( penghinaan ) terhadap Nabi.

    Dalam menghadapi keadaan yang kurang baik ini, saya menghimbau kepada  pembuat pernyataan yang membuat jengkel orang – orang yang sangat mencintai Nabi untuk bertobat dan mencabut pernyataan serta lebih banyak membaca dan tekun belajar. Kepada saudara – saudara yang mendengar pernyataan, hendaknya menahan amarahnya dan jangan membuat gegeran yang berkelanjutan, kita hendaknya memberi maaf kepada orang lain, kita sadar bahwa manusia tidak selalu benar, manusia tempat salah dan alpa, dan semoga ke depan tidak ada kejadian yang serupa. Dan saya juga menghimbau kepada para pembela pernyataan dengan dalih tidak ada maksud menghina Nabi, agar supaya menela`ah suatu qisoh kejadian yang di lakukan oleh shohabat Usamah bin Zaid bin Haritsah RA yang tetap membunuh orang yang telah mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ.  Ketika Usamah sampai di Madinah berita itu sudah sampai kepada Nabi, maka Nabi bertanya kepadanya :” Wahai Usamah apakah engkau tetap membunuhnya setelah ia mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ, Usama menjawab, ” Iya Ya Rosulullah, dia mengucapkannya karena takut kepada senjata kami”, maka Nabi bersabda : ” Kenapa engkau tidak membelahnya, sehingga engkau mengetahui apakah hatinya mengucapkan لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ karena ikhlas ataukah karena alasan lainnya ?”, kemudian Nabi bersabda : نَحْنُ نَحْكُمُ بِا لظَّوَا هِرِ وَالّلهُ يَتَوَلَّى السَّرَائِرِ, ” kita diperintah untuk menghukum apa yang dhohir ( yang tampak ) dan Allah SWT yang menghukum apa yang tersimpan di hati orang”. Dalam kasus ini ialah yang di jadikan acuan adalah isi pembicaraannya, bukan maksud dan niat yang ada di dalam hatinya. Sekian, semoga tulisan ini bermanfaat dan mohon maaf atas segala kesalahan. (*)